10 Perampokan Kripto Terbesar Sepanjang Sejarah, Binance Ikut Terseret
Dunia kripto seringkali dianggap sebagai wilayah yang penuh peluang namun juga penuh risiko. Salah satu risiko terbesar yang dihadapi oleh investor dan pengguna adalah ancaman keamanan, yang seringkali berujung pada perampokan skala besar. Sejak kehadirannya, industri kripto telah menjadi sasaran bagi para peretas dan kriminal siber yang mencari keuntungan dari sistem yang relatif baru dan belum sepenuhnya diatur. Berikut adalah 10 perampokan kripto terbesar sepanjang sejarah yang mengguncang industri digital ini.
1. Keruntuhan FTX - 2022
Kasus keruntuhan FTX pada November 2022 menjadi salah satu skandal terbesar dalam sejarah kripto. Perusahaan exchange yang dahulu dikelola oleh Sam Bankman-Fried ini kehilangan sekitar $8 miliar dana pengguna dalam waktu singkat. Investigasi menunjukkan bahwa dana pengguna telah dialihkan ke perusahaan saudaranya, Alameda Research, yang digunakan untuk trading dan investasi berisiko tinggi. Skandal ini menyebabkan kebangkrutan FTX dan menimbulkan kepercayaan yang merosot terhadap industri kripto secara keseluruhan.
2. Ronin Network - 2022
Pada Maret 2022, jaringan Ronin, yang terkait dengan game blockchain Axie Infinity, menjadi korban peretasan skala besar. Para peretas berhasil menghilangkan sekitar $625 juta dalam bentuk Ethereum dan USDC. Ini adalah perampokan terbesar yang pernah terjadi pada sebuah jaringan sidechain. Keamanan jaringan ini dikompromikan karena hanya membutuhkan konfirmasi dari 9 dari 21 validator, yang sebelumnya telah dikurangi menjadi hanya 6 untuk meningkatkan kecepatan transaksi selama masa promosi game.
3. Mt. Gox - 2014
Kasus Mt. Gox menjadi peringatan pertama bagi dunia kripto tentang risiko keamanan. Pada tahun 2014, exchange Bitcoin terbesar saat itu mengumumkan bahwa 850.000 Bitcoin milik pengguna hilang atau dicuri, setara dengan sekitar $450 juta pada saat itu. Perusahaan akhirnya mengajukan kebangkrutan, dan para pengguna harus menunggu bertahun-tahun untuk mendapatkan kembali sebagian dari aset mereka. Kasus ini menunjukkan kerentanan sistem sentralisasi dalam mengelola aset kripto.
4. Bitfinex - 2016
Pada Agustus 2016, exchange Bitfinex menjadi sasaran peretasan yang mengakibatkan kerugian sebesar $120 juta dalam Bitcoin. Peretas berhasil menembus sistem keamanan dan mengalihkan dana ke dompet digital mereka sendiri. Insiden ini memaksa Bitfinex untuk memotong 36% dari semua saldo akun pengguna untuk menutupi kerugian. Meskipun berhasil pulih, insiden ini memberikan dampak negatif terhadap citra Bitfinex dan industri kripto secara umum.
5. Coincheck - 2018
Salah exchange terbesar di Jepang, Coincheck, menjadi korban perampokan pada Januari 2018. Para peretas berhasil mencuri sekitar $534 juta dalam bentuk NEM Coin. Keamanan yang tidak memadai dalam penyimpanan aset kripto menjadi faktor utama dalam insiden ini. Kasus ini memicu regulasi yang lebih ketat terhadap exchange kripto di Jepang dan menjadi pelajaran bagi seluruh industri tentang pentingnya keamanan penyimpanan aset.
6. Poly Network - 2021
Insiden unik terjadi pada Agustus 2021 ketika platform interoperabilitas blockchain Poly Network menjadi sasaran peretasan yang mengakibatkan kerugian lebih dari $610 jilt. Yang menarik, para peretas akhirnya mengembalikan sebagian besar dana tanpa permintaan imbalan, dengan alasan "untuk kesenangan" dan "menjalankan tes keamanan". Insiden ini menyoroti potensi kerentahan dalam protokol cross-chain sekaligus menunjukkan bahwa tidak semua peretas memiliki niat jahat.
7. Wormhole - 2022
Pada Februari 2022, jembatan Wormhole, yang memungkinkan transfer aset antar blockchain, menjadi sasaran peretasan yang mengakibatkan kerugian sebesar $325 jilt dalam bentuk Ethereum. Para peretas memanipulasi sistem dan membuat token palsu yang dapat ditebus dengan aset asli. Insiden ini menunjukkan risiko yang terkait dengan protokol jembatan blockchain yang semakin populer dalam ekosistem kripto.
8. KuCoin - 2020
Exchange KuCoin menjadi korban peretasan pada September 2020 yang mengakibatkan kerugian sebesar $281 jilt dalam berbagai aset kripto. Para peretas berhasil menembus sistem keamanan dan mengalihkan dana ke dompet digital mereka. KuCoin berhasil pulih dengan cepat dan mengumumkan bahwa mereka akan mengganti semua kerugian bagi pengguna. Kasus ini menunjukkan bahwa respons cepat dari pihak exchange dapat membantu meminimalkan dampak negatif terhadap kepercayaan pengguna.
9. Liquid - 2021
Pada Oktober 2021, exchange Liquid mengumumkan bahwa mereka telah menjadi korban peretasan yang mengakibatkan kerugian sebesar $97 jilt dalam berbagai aset kripto. Peretas berhasil menembus sistem keamanan dan mengalihkan dana ke dompet digital mereka. Kasus ini menjadi contoh lain tentang pentingnya keamanan sistem bagi exchange kripto, terutama bagi platform yang menawarkan berbagai produk finansial kompleks.
10. Binance Hack - 2018
Salah satu exchange terbesar di dunia, Binance, menjadi korban peretasan pada Mei 2018 yang mengakibatkan kerugian sebesar $40 jilt dalam Bitcoin. Para peretas berhasil menembus sistem keamanan dan mengalihkan dana ke dompet digital mereka. Binance menanggapi insiden ini dengan menghentikan semua penarikan sementara dan menunjukkan komitmen untuk mengganti semua kerugian bagi pengguna. Meskipun jumlahnya lebih kecil dibandingkan kasus lain, insiden ini memiliki dampak signifikan karena melibatkan salah satu pemain terbesar dalam industri kripto.
Perampokan-perampokan ini menunjukkan bahwa meskipun industri kripto terus berkembang dengan pesat, risiko keamanan tetap menjadi tantangan besar. Para investor dan pengguna diimbau untuk selalu waspada, menggunakan dompet pribadi yang aman, dan memilih platform yang memiliki reputasi baik dan sistem keamanan yang memadai. Sementara itu, regulator dan industri perlu bekerja sama untuk mengembangkan standar keamanan yang lebih ketat untuk melindungi aset dan kepercayaan pengguna dalam ekosistem kripto yang terus berkembang.
Komentar (0)