Bahlil Minta Danantara Tak Kendor Dinego Singapura Soal Harga Listrik
Menteri ESDM (Energi dan Sumber Daya Mineral) Arifin Tasrif menegaskan bahwa Wakil Menteri ESDM, Arcandra Tahar atau yang akrab disapa Danantara, diminta untuk tidak kendor dalam melakukan negosiasi dengan Singapura terkait harga listrik. Pernyataan ini disampaikan oleh Bahlil Lahadia, Staf Khusus Presiden Bidang Energi, usai menghadiri rapat koordinasi di Kantor Presiden pada Rabu (15/11).
Dalam rapat yang dipimpin Presiden Joko Widodo tersebut, dibahas mengenihal persiapan negosiasi harga listrik antara Indonesia dan Singapura. Bahlil menjelaskan bahwa pihaknya menekankan kepada Danantara untuk tetap tegas dalam memperjuangkan harga listrik yang lebih baik bagi Indonesia.
"Kita minta Pak Danantara tidak kendor dalam negosiasi ini. Kita harus memastikan harga listrik yang kita jual ke Singapura sejalan dengan harga pasar internasional," ujar Bahlil usai rapat.
Bahlil menambahkan bahwa harga listrik saat ini menjadi salah satu isu penting dalam hubungan bilateral Indonesia-Singapura. Indonesia sebagai penjual listrik harus mendapatkan harga yang sebanding dengan biaya produksi dan investasi yang telah dikeluarkan.
"Kita sudah menghitung biaya produksi, biaya transmisi, dan juga margin yang sehat. Semua itu harus dipertimbangkan dalam penetapan harga," jelas Bahlil.
Sebelumnya, diketahui bahwa Singapura merupakan salah satu pembeli listrik terbesar dari Indonesia. Listrik tersebut dikirim melalui interkoneksi di wilayah Sumatera dan Jawa. Namun, harga listrik yang diberlakukan saat ini dinilai belum mencerminkan nilai sejajar dengan kondisi pasar global.
Dalam rapat tersebut, Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan tim negosiator yang solid untuk membahas permasalahan ini. Tim ini akan dipimpin langsung oleh Danantara dengan dukungan dari pihak terkait seperti PLN (Perusahaan Listrik Negara) dan Kementerian ESDM.
"Kita sudah menyiapkan data-data yang komprehensif untuk mendukung negosiasi. Data produksi, biaya operasional, dan harga jual listrik di negara lain akan menjadi acuan kita," tutur Bahlil.
Ia juga menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mengizinkan adanya kerugian bagi Indonesia dalam transaksi listrik ke Singapura. Hal ini penting untuk memastikan keberlanjutan investasi di sektor energi Indonesia.
"Kita tidak ingin ada kerugian karena ini akan berdampak pada kelangsungan proyek-proyek pembangkit listrik di Indonesia. Jadi, harga yang sejalan dengan pasar adalah kunci utamanya," papar Bahlil.
Kelangsungan Proyek Listrik ke Singapura
Dalam rapat tersebut juga dibahas mengenai kelangsungan proyek listrik ke Singapura. Saat ini, Indonesia mengekspor listrik ke Singapura melalui beberapa jalur interkoneksi, antara lain dari Sumatera melalui jalur Batam dan dari Jawa melalui jalur Singkawang.
Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah berkomitmen untuk memastikan kelangsungan pasokan listrik ke Singapura. Namun, komitmen ini harus diimbangi dengan harga yang adil bagi Indonesia.
"Kita akan terus memasok listrik ke Singapura karena ini adalah bagian dari komitmen bilateral. Tapi, harga yang kita terima harus memadai," tegas Bahlil.
Ia menambahkan bahwa pemerintah juga akan memperhatikan dampak dari perubahan harga listrik ini terhadap masyarakat Indonesia. Pihaknya berjanji bahwa kenaikan harga listrik domestik tidak akan terjadi akibat dari penyesuaian harga ekspor.
"Kita sudah mempertimbangkan dampaknya terhadap masyarakat. Jadi, penyesuaian harga ekspor tidak akan berdampak pada tarif listrik domestik," jelas Bahlil.
Tinjauan Pasar Listrik Internasional
Dalam persiapannya, pemerintah telah melakukan tinjauan mendalam mengenai harga listrik di pasar internasional. Data menunjukkan bahwa harga listrik bervariasi di setiap negara, tergantung dari sumber energi yang digunakan, infrastruktur, dan kebijakan pemerintah masing-masing.
"Kita membandingkan harga listrik yang kita jual ke Singapura dengan harga di negara-negara lain. Dari hasil perbandingan, kita melihat ada potensi penyesuaian harga," ujar Bahlil.
Ia mencontohkan bahwa beberapa negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand memiliki harga listrik yang lebih tinggi dibandingkan dengan harga yang saat ini diberlakukan kepada Singapura.
"Ini menjadi bahan pertimbangan kita dalam negosiasi. Kita harus memastikan harga yang kita terima sejalan dengan kondisi regional dan internasional," papar Bahlil.
Dengan demikian, pemerintah menegaskan bahwa dalam negosiasi harga listrik ke Singapura, Indonesia akan memegang teguh prinsip harga yang sejalan dengan pasar dan memberikan keuntungan bagi kedua belah pihak.
"Kita bukan ingin merugikan Singapura, tapi kita juga tidak mau dirugikan. Jadi, harga yang adil adalah solusi terbaik untuk kedua negara," tutup Bahlil.
Komentar (0)