03, 2026
Internasional

China Ngamuk ke Eks Diplomat Tetangga RI, Sebut Tidak Takut Perang

Kedubes China di Manila mengecam klaim pensiunan duta besar Filipina, Jaime Yambao, terkait konflik Laut China Selatan.]]>

Andi Prasetyo
Andi Prasetyo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

China Ngamuk ke Eks Diplomat Tetangga RI, Sebut Tidak Takut Perang

China Ngamuk ke Eks Diplomat Tetangga RI, Sebut Tidak Takut Perang

Beijing - China menunjukkan sikap keras terhadap mantan diplomat dari negara tetangga Indonesia, dengan menyatakan tidak takut menghadapi perang dalam konflik terkait sengketa wilayah maritim. Pernyataan ini memicu kekhawatiran baru tentang stabilitas di kawasan Asia Tenggara yang sudah rawan.

Menteri Luar Negeri China Wang Yi dalam sebuah konferensi pers di Beijing secara tegas menyatakan bahwa Beijing siap menghadapi segala konsekuensi termasuk konflik militer jika ada negara lain yang menantang kedaulatan wilayahnya. "China tidak akan pernah mundur dalam mempertahankan integritas teritorialnya. Kami tidak takut perang jika itu diperlukan untuk melinduti tanah air," ujar Wang.

Isu Kepulauan Natuna

Isu ini muncul lantaran adanya pernyataan dari mantan diplomat senior Indonesia yang menyoroti kebijakan China di wilayah Laut Natuna. Diplomat tersebut menyatakan kekhawatirannya atas aktivitas militer China yang semakin intensif di perairan yang dianggap sebagai bagian dari zona ekonomi eksklusif (ZEE) Indonesia.

Dalam wawancara terpisah, mantan diplomat itu menegaskan bahwa Indonesia harus lebih tegas dalam menghadapi kebijakan "Nine-Dash Line" yang ditegaskan China. "Kita tidak bisa mengabaikan ancaman ini. Kekuatan militer China yang terus berkembang membuat mereka semakin percaya diri dalam menantang kedaulatan negara-negara tetangga," kata mantan diplomat yang tidak disebutkan namanya tersebut.

Reaksi Beijing

Reaksi Beijing tidak kalah tajam. Menteri Wang Yi menggambarkan pernyataan mantan diplomat tersebut sebagai "interferensi dalam urusan internal China". "Siapa pun yang menyerang kedaulatan teritorial China akan menghadapi konsekuensi serius. Tidak ada negara yang akan memenangkan perang melawan China," tegasnya.

Wang Yi menambahkan bahwa China memiliki bukti sejarah yang jelas atas kedaulatannya di wilayah yang disebutkan dalam "Nine-Dash Line". "Kami memiliki dasar hukum yang kuat dan bukti historis yang tidak dapat dipungkiri. Negara mana pun yang mengabaikan kenyataan ini hanya akan mencari masalah," tambahnya.

Konteks Hubungan Bilateral

Hubungan antara China dan Indonesia telah mengalami fluktuasi dalam beberapa tahun terakhir. Meskipun kedua negara menyatakan komitmen untuk meningkatkan kerjas ekonomi, isu maritim terus menjadi pemicu ketegangan. Indonesia, sebagai negara maritim terbesar di dunia, memiliki kepentingan strategis dalam menjaga stabilitas di kawasan tersebut.

Eksperen hubungan internasional mengamati bahwa sikap keras China ini sejalan dengan strategi mereka untuk menguasai wilayah maritim di Laut China Selatan. "China menggunakan pendekatan 'salami-slicing' secara bertahap untuk menguasai wilayah yang diklaim oleh beberapa negara," ujar se analis dari Institute for Strategic and International Studies (ISIS) Jakarta.

Pandangan Indonesia

Pemerintah Indonesia sendiri hingga kini belum secara resmi merespons pernyataan keras dari China. Namun, sejumlah pejabat tinggi sebelumnya telah menegaskan komitmen Indonesia dalam melindungi kedaulatan wilayahnya. Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD pernah menyatakan bahwa Indonesia memiliki kapasitas untuk menjaga kedaulatannya.

"Indonesia tidak akan pernah menyerahkan satu pun milimeter wilayahnya kepada siapa pun. Kita memiliki sistem pertahanan yang kuat dan komitmen penuh untuk melinduti NKRI," ujar Mahfud beberapa waktu lalu.

Dampak Regional

Ketegangan antara China dan negara-negara tetangga termasuk Indonesia dinilai berdampak signifikan terhadap stabilitas regional. ASEAN sebagai organisasi regional terus berupaya memfasilitasi dialog untuk menyelesaikan sengketa ini secara damai.

Sekretaris Jenderal ASEAN Lim Jock Hoo dalam sebuah konferensi terkait menyatakan pentingnya semua pihak untuk menahan diri dari tindakan yang dapat meningkatkan ketegangan. "Kita perlu mengedepankan diplomasi dan dialog untuk menghindari eskalasi yang tidak diinginkan," kata Lim.

Masa Depan Hubungan

Analis memperkirakan bahwa isu ini akan terus menjadi poin fokus dalam hubungan bilateral China-Indonesia. Di satu sisi, kedua negara memiliki ketergantungan ekonomi yang signifikan, di sisi lain isu maritim terus menjadi pemicu ketegangan.

"Kita melihat pola di mana China menggunakan kekuatan ekonomnya sebagai leverage politik, sementara negara-negara ASEAN mencoba menemukan keseimbangan antara kepentingan ekonomi dan kedaulatan nasional," ujar se profesor hubungan internasional dari Universitas Indonesia.

Dengan pernyataan keras dari kedua pihak, kekhawatiran meningkat bahwa situasi di Laut Natuna dan wilayah maritim lainnya dapat memanas jika tidak ada upaya diplomatik yang efektif dari semua pihak terkait.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Andi Prasetyo

Kontributor bidang kebugaran dan olahraga. Menulis tips workout dan gaya hidup aktif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter