29, 2026
Nasional

Erick Thohir Gelar Pertemuan dengan Kapolri Bahas Keributan Suporter: Tindak Pelaku Kriminal di Luar Stadion, Singgung Pengurangan Poin

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Erick Thohir Gelar Pertemuan dengan Kapolri Bahas Keributan Suporter: Tindak Pelaku Kriminal di Luar Stadion, Singgung Pengurangan Poin

Menteri BUMN Erick Thohir menggelar pertemuan penting dengan Kepala Kepolisian Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal Listyo Sigit Prabowo untuk membahas berbagai isu terkait keamanan dan ketertiban dalam olahraga, khususnya mengenai keributan yang sering melibatkan suporter sepak bola. Pertemuan yang berlangsung di Kantor Kementerian BUMN, Jakarta, Selasa (15/11/2022) ini membahas beberapa poin penting, termasuk penindakan terhadap pelaku kriminal di luar stadion serta potensi pengurangan poin sebagai sanksi bagi tim yang diduga membiarkan suporter melakukan tindak kekerasan.

Kerjasama Antar Lembaga untuk Atasi Masalah Suporter

Dalam pertemuan yang berlangsung sekitar dua jam ini, Erick Thohir dan Jenderal Listyo Sigit sepakat untuk meningkatkan kerjasama antar lembaga dalam mengatasi masalah kekerasan yang dilakukan sekelompok suporter. Kedua pejabat setuju bahwa tindakan keras perlu ditempuh, terutama bagi pelaku yang dianggap sebagai provokator atau organisator keributan di luar stadion.

"Kita harus tegas terhadap pelaku kriminal di luar stadion. Ini bukan lagi masalah suporter, tapi masah kejahatan yang harus ditindak tegas," ujar Erick Thohir usai pertemuan.

Menurutnya, Kementerian BUMN sebagai inducung dari beberapa klub sepak bola besar akan memberikan dukungan penuh kepada kepolisian dalam memberantas tindak kekerasan yang meresahkan masyarakat. Ia menambahkan bahwa klub-klub tersebut akan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk mengidentifikasi dan menindak pelaku yang terlibat dalam berbagai insiden keributan.

Pengurangan Poin sebagai Sanksi Alternatif

Salah satu topik yang menjadi sorotan dalam pertemuan adalah penerapan pengurangan poin sebagai sanksi bagi tim yang dinilai gagal mengawasi suporter. Gagasan ini sempat menjadi kontroversi di kalangan pengurus klub dan suporter, namun mendapat dukungan dari pihak kepolisian.

"Kita perlu memberikan sanksi yang efektif. Pengurangan poin bisa menjadi salah satu opsi yang akan membuat klub lebih bertanggung jawab dalam mengawasi suporter," papar Kapolri Jenderal Listyo Sigit.

Ia menjelaskan bahwa sanksi tersebut akan diberikan setelah adanya investigasi menyeluruh oleh pihak kepolisian dan federasi sepak bola. Tim yang diduga membiarkan atau bahkan mendukung tindak kekerasan yang dilakukan suporter akan menjadi sasaran utama sanksi tersebut.

Langkah-Langkah Pencegahan yang Akan Diambil

Selain penindakan dan sanksi, kedua pihak juga sepakat untuk melakukan berbagai langkah pencegahan. Langkah-langkah tersebut antara lain:

Pertama, pemasangan kamera pengawas (CCTV) di sekitar stadion dan titik-titik kumpul suporter untuk memudahkan identifikasi pelaku. Kedua, penyelenggaraan edukasi dan sosialisasi kepada suporter tentang pentingnya sportivitas dan larangan kekerasan. Ketiga, peningkatan koordinasi antara kepolisian, klub, dan manajemen stadion dalam mengelola laga.

Erick Thohir juga menyampaikan bahwa Kementerian BUMN akan memfasilitasi dialog antara klub-klub, suporter, dan pihak kepolisian untuk mencari solusi bersama. Ia menegaskan bahwa kekerasan dalam olahraga tidak boleh ditoleransi dan harus dihentikan segera.

Reaksi dari Kalangan Suporter dan Klub

Gagasan pengurangan poin sebagai sanksi mendapat beragam reaksi dari kalangan suporter dan klub. Beberapa pengurus klub mengaku prihatin dengan potensi sanksi tersebut, sementara sebagian suporter menilai langkah tersebut terlalu berlebihan.

"Kami mengapresiasi langkah yang diambil oleh Pak Menteri dan Kapolri. Namun, kami berharap sanksi tidak hanya menjerat klub dan suporter yang benar-benar melakukan kesalahan, tapi juga memberikan ruang untuk perbaikan," ujar Ketua Asosiyasi Klub Indonesia (AKSI) yang meminta tidak disebutkan namanya.

Sementara itu, seorang tokoh suporter yang juga menolak disebut namanya menyatakan bahwa langkah tersebut akan membuat hubungan antara klub dan suporter semakin renggang. Ia berharap ada solusi lain yang lebih memperhatikan hak suporter sebagai bagian tak terpisahkan dari sepak bola.

Target dan Tantangan di Depan

Kedua pejabat setuju untuk menyelesaikan berbagai masalah tersebut dalam waktu dekat. Target yang ditetapkan adalah penurunan signifikan insiden kekerasan yang melibatkan suporter dalam enam bulan ke depan.

"Kita berharap dengan langkah-langkah ini, sepak bola Indonesia bisa kembali menjadi ajang yang menyenangkan dan sportif, bukan tempat untuk menunjukkan kekerasan," tutup Erick Thohir.

Pertemuan ini menjadi bukti komitmen pemerintah dan kepolisian dalam membersihkan citra sepak bola Indonesia dari tindak kekerasan. Namun, tantangan besar masih menanti, terutama dalam menyeimbangkan antara penindakan tegas dan perlindungan hak suporter yang setia mendukung timnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter