01, 2026
Teknologi

Harga Pangan 31 Oktober 2026: Cabai Rawit Merah Tembus Rp 96.200 per Kg

Arief Pratama
Arief Pratama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Harga Pangan 31 Oktober 2026: Cabai Rawit Merah Tembus Rp 96.200 per Kg

Pasar tradisional dan modern di seluruh Indonesia mengalami fluktuasi harga pangan yang signifikan pada akhir Oktober 2026. Data terkini yang diperoleh dari monitoring harga di berbagai wilayah menunjukkan bahwa harga cabai rawit merah mencapai level tertinggi dalam lima tahun terakhir, dengan harga rata-rata mencapai Rp 96.200 per kilogram.

Kenaikan harga ini terjadi secara bertahap selama tiga bulan terakhir. Pada awal Oktober 2026, harga cabai rawit merah masih berada di kisaran Rp 75.000 per kg, namun terus mengalami peningkatan tajam menjelang akhir bulan. Para pedagang pasar mengakui bahwa ketersediaan cabai rawit merah di pasar terbatas, sehingga mendorong harga naik drastis.

Faktor Penyebab Kenaikan Harga Cabai

Beberapa faktor turut berperan dalam kenaikan harga cabai rawit merah yang signifikan ini. Salah satu faktor utama adalah musim kemarau yang masih berlangsung di beberapa daerah penghasil cabai utama, seperti Jawa Timur dan Jawa Barat. Kondisi cuaca yang kurang mendukung membuat produksi cabai menurun drastis.

Selain itu, adanya peningkatan permintaan dari industri makanan dan restoran yang mulai pulih setelah masa pandemi juga turut memicu lonjakan harga. Industri pengolahan makanan yang membutuhkan cabai sebagai bahan baku utama melakukan pembelian dalam jumlah besar, sehingga mengurangi pasokan untuk konsumen langsung.

Menurut Kepala Distan Pangan dan Pertanian Provinsi Jawa Timur, Ahmad Fauzi, "Kondisi cuaca ekstrem yang terjadi beberapa bulan terakhir memang berdampak signifikan terhadap produksi cabai. Selain itu, adanya gangguan hama dan penyakit pada tanaman cabai juga turut memperburat situasi."

Dampak pada Konsumen dan Pedagang

Kenaikan harga cabai rawit merah yang mencapai Rp 96.200 per kg ini tentu memberikan dampak signifikan bagi konsumen, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah yang mengonsumsi cabai dalam jumlah besar sehari-hari. Banyak dari mereka harus mengurangi penggunaan cabai dalam masakan sehari-hari atau beralih ke jenis cabai yang lebih murah.

"Sulit sekali sekarang, harga cabai naik terus, padahal anak-anak suka makan pedas. Jadi harus hemat-hemat, pake cabai yang lebih murah atau kurangi aja," ujar Siti, seorang ibu rumah tangga di Pasar Minggu, Jakarta.

Di sisi lain, para pedagang juga merasakan dampak dari kenaikan harga ini. Meskipun harga jual naik, keuntungan yang mereka dapatkan tidak sebesar yang dibayangkan karena harga beli dari para pemodal juga meningkat.

"Harga cabai naik, tapi untungnya tidak seberapa karena harga beli juga mahal. Pasokan juga terbatas, kadang-kadang habis di tengah jalan," jelas Bapak Warsito, seorang pedagang sayur di Pasar Induk Kramat Jati.

Upaya Mengatasi Kenaikan Harga

Pemerintah telah berupaya untuk mengatasi kenaikan harga cabai ini. Salah satu upaya yang dilakukan adalah dengan mengimpor cabai dari negara tetangga seperti Thailand dan Vietnam. Selain itu, pemerintah juga mendorong peningkatan produksi cabai melalui program bantuan benih pupuk dan penyuluhan kepada para petani.

Kementerian Pertanian juga sedang mengembangkan varietas cabai yang lebih tahan terhadap cuaca ekstrem dan hama. "Kami sedang mengembangkan program jangka pendek dan jangka panjang untuk mengatasi krisis harga cabai. Untuk jangka pendek, kami akan memastikan pasokan cabai stabil melalui impor. Untuk jangka panjang, kami akan fokus pada peningkatan produktivitas dan ketahanan varietas cabai lokal," ujar Menteri Pertanian Syariefuddin.

Selain itu, pemerintah juga berencana untuk memperluas program pasar murah di berbagai daerah agar harga pangan bisa terjangkau oleh masyarakat. Program ini akan menjamin ketersediaan pangan pokok dengan harga stabil.

Prospek Harga di Masa Depan

Menurut para ahli, harga cabai rawit merah diperkirakan akan tetap tinggi hingga akhir November 2026, seiring dengan berakhirnya musim kemarau dan dimulainya musim hujan yang diharapkan dapat meningkatkan produksi cabai.

"Secara alami, dengan masuknya musim hujan di November, produksi cabai diperkirakan akan meningkat. Namun, peningkatan produksi ini butuh waktu sekitar satu hingga dua bulan untuk dapat menurunkan harga secara signifikan," jelas Dr. Hendra, ahli agronomi dari Institut Pertanian Bogor.

Dengan demikian, konsumen diharapkan bersabar dan melakukan penghematan dalam menggunakan cabai sebelum harga kembali normal. Para petani juga diharapkan dapat memanfaatkan musim hujan untuk meningkatkan produksi cabai agar pasokan di pasaran dapat kembali stabil.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Arief Pratama

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter