Hashim Peringatkan Rupiah Bisa Tembus Rp22.000, Ini Biang Kerok yang Disorot
Rupiah menghadapi tekanan yang signifikan dalam beberapa pekan terakhir, dan peringatan keras disampaikan oleh Hashim Djojohadikusumo, Ketua Dewan Penasihat Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia. Menurutnya, nilai tukar rupiah berpeluang mengalami depresiasi lebih dalam dan bahkan bisa menembus angka Rp22.000 per dolar Amerika Serikat (AS) jika berbagai faktor risiko tidak segera ditangani dengan baik.
Hashim menjelaskan bahwa ada beberapa biang kerok utama yang menjadi ancaman bagi stabilitas nilai tukar rupiah. Faktor-faktor tersebut tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari kondisi ekonomi global yang semakin tidak menentu.
Te pressures Eksterni yang Mengancam
Salah satu faktor utama yang disorot Hashim adalah kebijakan moneter Amerika Serikat yang terus mengarahkan suku bunga tinggi. The Federal Reserve (The Fed) telah menunjukkan kecenderungan untuk mempertahankan suku bunga tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama dari yang diperkirakan sebelumnya.
"Kebijakan The Fed yang agresif ini membuat seluruh mata uang emerging market termasuk rupiah mengalami tekanan," ujar Hashim dalam salah satu diskusi ekonomi terkini.
Selain itu, ketegangan geopolitik global, khususnya konflik antara Rusia dan Ukraina, juga terus menjadi pemicu volatilitas. Konflik ini tidak hanya mengancam stabilitas pasokan energi global tetapi juga mendorong inflasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Faktor Domestik yang Tidak Kalah Kritis
Sementara itu, dari sisi domestik, Hashim menyoroti beberapa isu yang berpotensi menggerus kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Salah satunya adalah defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit) yang masih relatif tinggi.
"Defisit transaksi berjalan yang tinggi membuat kita rentan terhadap al modal asing. Ketika investor merasa risiko meningkat, mereka akan menarik dana mereka, yang pada gilirannya menekan rupiah," jelasnya.
Hashim juga menyoroti tantangan dalam hal reformasi struktural. Menurutnya, percepatan reformasi sektor-sektor krusial seperti energi, pertanian, dan infrastruktur masih menjadi tantangan yang besar. Tanpa percepatan reformasi ini, daya saing ekonomi Indonesia akan sulit ditingkatkan.
Dampak pada Perekonomian Nasional
Jika rupiah benar-benar menembus level Rp22.000 per dolar AS, dampaknya akan dirasakan secara luas oleh perekonomian nasional. Impor menjadi lebih mahal, terutama untuk barang-barang yang membutuhkan bahan baku dari luar negeri.
"Hal ini akan berdampak pada biaya produksi industri kita. Akhirnya, beban ini bisa ditransfer ke konsumen dalam bentuk harga yang lebih tinggi," ujar Hashim.
Selain itu, utang luar negeri yang dinominalkan dalam dolar AS akan menjadi lebih berat. Pemerintah dan perusahaan-perusahaan yang memiliki utang dalam mata uang asing akan menghadapi beban pembelian yang lebih besar jika rupiah terus melemah.
Upaya yang Perlu Dilakukan
Menghadapi potensi risiko ini, Hashim menyoroti beberapa upaya yang perlu dilakukan secara simultan. Pertama, pemerintah perlu memperketat kebijakan fiskal dan moneter untuk menjaga stabilitas ekonomi.
"Kami perlu memastikan bahwa defisit anggaran tidak terlalu melebar. Sementara itu, Bank Indonesia perlu tetap waspada dan siap mengambil langkah preemptif jika diperlukan," katanya.
Kedua, percepatan reformasi sektor-sektor krusial menjadi kunci. Menurut Hashim, Indonesia harus memanfaatkan momentum ekonomi digital untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
Ketiga, peningkatan produksi dalam negeri menjadi sangat penting. Dengan mengurangi ketergantungan pada impor, Indonesia dapat meminimalkan dampak dari pelemahan rupiah.
Hashim menambahkan bahwa seluruh pihak harus bekerja sama untuk membangun kepercayaan investor. "Investor akan datang jika mereka melihat stabilitas, kepastian hukum, dan peluang yang menguntungkan. Itulah yang harus kita bangun bersama-sama," tegasnya.
Dengan berbagai tantangan ini, perjalanan rupiah dalam waktu dekat masih diprediksi akan penuh dengan volatilitas. Upaya komprehensif dari pemerintah, Bank Indonesia, dan seluruh pelaku ekonomi menjadi kunci untuk mencegah rupiah benar-benar menembus level Rp22.000 per dolar AS.
Komentar (0)