28, 2026
Ekonomi

IHSG Ditutup Turun 1,9%, Asing Buang 10 Saham Ini

IHSG melemah dua hari berturut-turut, ditutup pada level 5.266,13 turut 1,99%. Investor asing aksi jual bersih Rp668,26 miliar.]]>

Dian Gunawan
Dian Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

IHSG Ditutup Turun 1,9%, Asing Buang 10 Saham Ini

IHSG Ditutup Turun 1,9%, Asing Buang 10 Saham Ini

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup mengalami penurunan sebesar 1,9% pada perdagangan saham Kamis (15/6/2023). Penurunan ini terjadi di tengah meningkatnya ketidakpastian global dan aksi profit taking dari para investor asing yang tercatat melakukan penjualan bersih (net sell) pada sejumlah saham unggulan di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Penutupan IHSG pada level 6.832,88 ini merupakan penurunan ketiga berturut-turut sejak awal pekan. Volume perdagangan saham mencapai 14,2 miliar lembar dengan nilai transaksi mencapai Rp9,1 triliun. Sementara itu, frekuensi perdagangan tercatat sebanyak 377.933 kali.

Penyebab Penurunan IHSG

Analisis dari para analis menunjukkan bahwa ada beberapa faktor yang menyebabkan pelemahan IHSG pada hari ini. Pertama, meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kebijakan bank sentral Amerika Serikat (The Fed) yang kemungkinan akan terus menaikkan suku bunga acuan untuk mengendalikan inflasi yang masih tinggi.

Kedua, data inflasi di Amerika Serikat yang dirilis pada Rabu (14/6/2023) menunjukkan angka yang lebih tinggi dari ekspektasi, memperkuat spekulasi bahwa The Fed akan tetap agresif dalam menaikkan suku bunga. Hal ini berdampak negatif pada sentimen pasar global termasuk di Indonesia.

Ketiga, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang mencapai level Rp15.000 per dolar AS membuat investor menjadi lebih berhati-hati. Rupiah yang melemah ini mendorong biaya impor menjadi lebih mahal dan berpotensi meningkatkan tekanan inflasi domestik.

Aksi Jual Asing pada 10 Saham Ini

Data dari Bursa Efek Indonesia menunjukkan bahwa investor asing mencatatkan aksi jual bersih (net sell) sebesar Rp1,2 triliun pada seluruh saham yang tercatat di BEI. Dari total tersebut, ada 10 saham unggulan yang menjadi sasaran utama aksi jual investor asing.

Saham-saham tersebut meliputi PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI), PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk (TLKM), PT Astra International Tbk (ASII), PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF), PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk (BBNI), PT XL Axiata Tbk (EXCL), dan PT Smartfren Telecom Tbk (FREN).

Untuk BBCA saja, investor asing mencatatkan aksi jual bersih sebesar Rp380 miliar. Sementara itu, BBRI menjadi saham dengan aksi jual kedua terbesar oleh asing dengan nilai mencapai Rp320 miliar. Penurunan harga saham-saham blue chip ini turut mendorong pelemahan IHSG secara signifikan.

Reaksi Pelaku Pasar

Menurut Hendra, analis dari sebuah perusahaan sekuritas, aksi jual asing yang terjadi pada hari ini lebih disebabkan oleh faktor eksternal daripada kondisi fundamental perusahaan di Indonesia. "Secara fundamental, sebagian besar perusahaan di Indonesia masih menunjukkan kinerja yang baik. Namun, investor asing cenderung melakukan profit taking dan memindahkan modal ke pasar yang dianggap lebih aman," ujarnya.

Sementara itu, Sari, analis lain dari perusahaan sekuritas yang berbeda, mengatakan bahwa meskipun IHSG turun, namun ada beberapa sektor yang tetap menarik minat investor domestik. "Sektor konsumen dan infrastruktur masih relatif tahan di tengah tekanan pasar. Ini menunjukkan bahwa ada pergerakan yang cukup signifikan di dalam pasar, meskipun secara indeks terlihat melemah," tambahnya.

Prospek Pasar Hari Ini

Untuk perdagangan hari ini (16/6/2023), pasar diharapkan akan bergerak cenderung fluktuatif. Para investor akan menunggu data inflasi domestik yang akan dirilis oleh Badan Pusat Statistik (BPS) pada Jumat (16/6/2023).

Selain itu, keputusan Bank Indonesia (BI) mengenai suku bunga acuan juga akan menjadi sorotan. Pasar mengantisipasi BI akan mempertahankan suku bunga acuan untuk menstabilkan nilai tukar rupiah dan mengendalikan inflasi.

Analis menyarankan investor untuk tetap bersikap selektif dan memperhatikan fundamental perusahaan sebelum memutuskan untuk membeli atau menjual saham. Meskipun ada tekanan dari sisi eksternal, potensi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih relatif baik diharapkan dapat menjadi pilar utama bagi pasar saham domestik di tengah volatilitas global.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Gunawan

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter