02, 2026
Politik

Janjikan Warga Miskin yang Ngontrak Bisa Dapat Bantuan Bedah Rumah, Maruarar Sirait: Bukan untuk Pemilik Kontrakan

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/04/30/69f31bc37b0c0-menteri-perumahan-dan-kawasan-permukiman-pkp-maruarar-sirait_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Lestari Purnama
Lestari Purnama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Janjikan Warga Miskin yang Ngontrak Bisa Dapat Bantuan Bedah Rumah, Maruarar Sirait: Bukan untuk Pemilik Kontrakan

Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim) Republik Indonesia, Maruarar Sirait, menegaskan bahwa program bantuan bedah rumah yang digulirkan pemerintah tidak ditujukan bagi pemilik kontrakan, melainkan bagi penyewi yang berstatus miskin. Pernyataan ini disampaikan Maruarar dalam berbagai kesempatan, seiring dengan meningkatnya jumlah warga miskin yang tinggal di kontrakan di berbagai wilayah Indonesia.

Program bantuan bedah rumah ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas hunian warga, khususnya kelompok ekonomi lemah. Maruarar menekankan bahwa program ini sengaja dirancang untuk membantu mereka yang tinggal di rumah tidak layak huni, termasuk para penyewi kontrakan yang berpenghasilan minim.

"Program ini bukan untuk pemilik kontrakan, melainkan untuk warga miskin yang mengontrak," ujar Maruarar dalam sebuah konferensi pers beberapa waktu lalu. Ia menjelaskan bahwa bantuan ini berbentuk pembenahan atau renovasi rumah yang ditinggali warga miskin agar menjadi lebih layak huni dan aman.

Tujuan Program Bantuan Bedah Rumah

Bantuan bedah rumah ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas tempat tinggal warga miskin yang sering kali tinggal di rumah dengan kondisi memprihatinkan. Banyak warga miskin, terutama di perkotaan, tinggal di kontrakan yang sempit, kurang cahaya, dan tidak memenuhi standar kesehatan serta keselamatan hidup.

Menurut Maruarar, kondisi rumah yang tidak layak huni dapat berdampak buruk terhadap kesehatan dan produktivitas warga. "Rumah yang tidak layak huni bukan hanya masalah fisik, tetapi juga berdampak pada kesejahteraan mental dan sosial penghuninya," jelasnya.

Program ini juga sejalan dengan target pemerintah dalam mencapai 1000 rumah layak huni pada tahun 2024. Melalui program bedah rumah, pemerintah berharap dapat mengurangi angka keterlambatan pembangunan rumah layak huni di Indonesia.

Mekanisme Penyaluran Bantuan

Untuk memastikan bantuan tepat sasaran, pemerintah melalui Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukikan telah merumuskan mekanisme penyaluran yang transparan dan akuntabel. Warga yang berminim mendapatkan bantuan dapat mendaftar melalui pemerintah desa atau kelurahan setempat.

Setelah mendaftar, tim verifikasi dari pemerintah akan melakukan pengecekan langsung ke lokasi untuk memastikan kelayakan calon penerima bantuan. Verifikasi ini mencakup kondisi fisik rumah, status kepemilikan, dan kondisi ekonomi keluarga.

Maruarar menegaskan bahwa pihaknya akan bekerja sama dengan pemerintah daerah untuk memastikan penyaluran bantuan berjalan lancar dan tidak ada praktik penyelewengan. "Kita akan melakukan monitoring dan evaluasi secara berkala untuk memastikan program berjalan sesuai rencana," kata Menteri Maruarar.

Tanggapan dari Warga Miskin

Program ini disambut baik oleh warga miskin yang tinggal di kontrakan. Budi (45), salah satu warga di kawasan Jakarta Barat yang tinggal di kontrakan selama 15 tahun, mengaku sangat bersyukat dengan adanya program ini.

"Sudah lama kami menginginkan bantuan seperti ini. Rumah kami sekarang sudah rusak parah, atap bocor, dan lantai retak-retak. Dengan bantuan bedah rumah, kami berharap bisa tinggal lebih nyaman," ujar Budi saat diwawancarai di rumahnya.

Sementara itu, Siti (38), seorang ibu rumah tangga yang tinggal di kontrakan di Surabaya, mengungkapkan bahwa kondisi rumah saat ini sangat tidak memadai bagi keluarganya. "Dua anak saya sering sakit karena kondisi rumah yang lembab dan kurang cahaya matahari. Kami berharap dengan bantuan ini, anak-anak bisa lebih sehat," kata Siti dengan haru.

Tantangan dan Solusi

Meski program ini sangat diharapkan, Maruarar mengakui masih ada beberapa tantangan dalam pelaksanaannya. Salah satu tantangan utama adalah keterbatasan anggaran dan jumlah rumah yang bisa dibenahi. "Kita tidak bisa melayani semua sekaligus, jadi kita prioritaskan yang paling membutuhkan," jelasnya.

Untuk mengatasi tantangan ini, pemerintah berencana bekerja sama dengan berbagai pihak, termasuk swasta dan masyarakat, dalam program Corporate Social Responsibility (CSR) untuk membantu peningkatan kualitas hunian warga miskin.

Selain itu, pemerintah juga mendorong program perumahan subsidi bagi kelompok menengah ke bawah agar mereka dapat memiliki rumah sendiri, bukan terus mengontrak. "Kami berencana memperbanyak program perumahan subsidi untuk kelompok menengah ke bawah agar mereka bisa memiliki rumah yang layak," tambah Maruarar.

Dengan program bantuan bedah rumah ini, pemerintah berharap dapat memberikan solusi nyata bagi warga miskin yang tinggal di kontrakan, sehingga mereka dapat memiliki tempat tinggal yang lebih layak, sehat, dan aman.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Purnama

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter