03, 2026
Nasional

Kampung di Bekasi Ini Kekeringan Parah, Warga Antre Isi Galon Kosong

Kekeringan yang terjadi di Kabupaten Bekasi meluas. Warga kesulitan mendapatkan air bersih, seiring dengan sumber air di permukiman mereka mengering.]]>

Melati Handayani
Melati Handayani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kampung di Bekasi Ini Kekeringan Parah, Warga Antre Isi Galon Kosong

Kampung di Bekasi Kehabisan Air, Warga Panik Isi Galon

Kekeringan yang melanda wilayah Kampung Sukamaju, Kecamatan Tambun Selatan, Bekasi, Jawa Barat, telah mencapai titk kritis. Warga setempat mengalami kesulitan mendapatkan air bersih untuk kebutuhan sehari-hari. Situasi semakin memprihatinkan sejak seminggu terakhir, di mana sumber mata air dan pompa air yang biasa digunakan kering total. Warga terpaksa harus antre memborong air dalam galon kosong ke beberapa lokasi jarak jauh.

Menurut keterangan beberapa warga, kekeringan ini bukan kali pertama terjadi. Namun, intensitas dan durasi kali ini dianggap lebih parah dibandingkan dengan musim kemarau sebelumnya. "Ini musim ketiga kami mengalami kekeringan, tapi yang paling parah memang sekarang. Biasa setelah seminggu bisa hujan, tapi kali ini sudah dua minggu tidak turun sama sekali," ujar Siti, salah seorang warga setempat.

Kondisi ini menyebabkan aktivitas warga terganggu, terutama dalam memenuhi kebutuhan air minum. Anak-anak terlihat membawa galon berukuran berbagai ukuran berjejer di sepanjang jalan menuju mobil tangki air yang disediakan pemerintah setempat. Beberapa warga bahkan memanfaatkan sepeda motor untuk mengangkut lebih banyak galon sekaligus.

Krisis Air di Bekasi Utara

Wilayah Bekasi Utara, termasuk Kecamatan Tambun Selatan, memang sering mengalami kekeringan saat musim kemarau. Menurut data dari Dinas Sumber Daya Air (SDA) Bekasi, wilayah ini memiliki ketergantungan tinggi terhadap air tanah yang terus menurun debitnya. "Kondisi ini diperparah dengan semakin maraknya pembangunan perumahan dan industri di sekitar wilayah ini yang menambah beban pemakaian air," jelas Kepala Dinas SDA Bekasi, Ahmad Rizki.

Rizki menjelaskan bahwa debit air tanah di wilayah Bekasi Utara telah menurun drastis dalam lima tahun terakhir. "Jika dulu kita masih bisa menemukan air tanah dalam kedalaman 30-40 meter, kini harus menembus hingga 100 meter bahkan lebih. Dan bahkan di beberapa titik, meski menembus lebih dari 100 meter, airnya tidak memadai lagi," tambahnya.

Upaya Darurat Pemerintah

Sebagai respons darurat, Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi telah menyiapkan dua mobil tangki air untuk memenuhi kebutuhan warga. Kendaraan ini beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 20.00 WIB di tiga titik penyaluran di wilayah Sukamaju. "Kita juga sedang berkoordinasi dengan PDAM Tirta Bhagasasi untuk menambah frekuensi pengiriman air melalui mobil tangki mereka," ujar Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bekasi, Budi Santoso.

Santoso mengakui bahwa mobilitas air tangki terkendala karena akses beberapa jalan di wilayah tersebut yang cukup sulit dilalui kendaraan besar. "Kita sedang mempertimbangkan untuk menyediakan pompa tambahan di beberapa titik sumber air terdekat agar warga tidak perlu jauh-jauh mengambil air," tambahnya.

Dampak pada Keseharian Warga

Kekeringan ini tidak hanya memengaruhi kebutuhan air minum, tetapi juga mengganggu aktivitas ekonomi warga. Beberapa usaha kecil yang membutuhkan air banyak seperti warung makan dan bengkel terpaksa mengurangi aktivitasnya. "Kita hanya bisa buka setengah hari karena kekurangan air untuk mencuci piring dan memasak," kata Ahmad, pemilik warung makan setempat.

Sementara itu, beberapa warga yang memiliki sumur bor pribadi juga mengeluhkan debit air yang menurun drastis. "Meski punya sumur bor, airnya tidak mengalak. Kita harus menunggu lama untuk bisa mengisi satu tangki," keluh Susi, warga lainnya.

Tantangan Jangka Panjang

Para aktivis lingkungan menyampaikan kecemasan mereka mengenai situasi ini. Menurut mereka, kekeringan parah di Bekasi merupakan dampak dari eksploitasi air tanah yang tidak berkelanjutan. "Kita perlu sistem manajemen air yang lebih baik, termasuk konservasi air dan pengendalian penggunaan air tanah," kata Rina dari Lingkungan Hidup Bekasi.

Pemkot Bekasi berencana melakukan penelitian lebih lanjut untuk menemukan solusi jangka panjang. "Kita sedang mempertimbangkan beberapa opsi, termasuk penyediaan instalasi pengolahan air (IPA) skala kecil dan program penanaman pohon untuk menangkap hujan," uji Wali Kota Bekasi, Muhammad Iqbal.

Sementara itu, warga terus berharap agar musim hujan segera tiba untuk mengatasi kelangkaan air yang mereka alami. "Kami hanya bisa berdoa agar segera turun hujan. Kehidupan kami tergantung pada itu," tutup Siti dengan nada penuh harap.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Melati Handayani

Peliput olahraga nasional dan perkembangan liga domestik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter