28, 2026
Teknologi

Kasus TBC di Jakarta Capai 44.636, Dinkes Soroti Pasien Putus Obat

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kasus TBC di Jakarta Capai 44.636, Dinkes Soroti Pasien Putus Obat

Penyakit Tuberkulosis (TBC) terus menjadi masalah kesehatan serius di Provinsi DKI Jakarta. Data terbaru dari Dinas Kesehatan (Dinkes) Jakarta mencatat bahwa jumlah kasus TBC di ibu kota mencapai angka 44.636 kasus. Angka ini menunjukkan bahwa TBC masih menjadi ancaman serius bagi kesehatan masyarakat Jakarta, meskipun upaya pencegahan dan pengobatan telah dilakukan secara intensif.

Kepala Dinas Kesehatan DKI Jakarta, Widyastuti mengungkapkan bahwa meskipun jumlah kasus TBC di Jakarta relatif stabil dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, angka kematian akibat TBC masih menjadi perhatian serius. "Kami terus berupaya mengurangi angka kasus TBC di Jakarta melalui berbagai program, namun tantangan utama masih datang dari pasien yang putus obat," ujar Widyastuti dalam konferensi pers yang diselenggarakan pada Rabu (15/3).

Pasien Putus Obat Menjadi Fokus Utama

Salah satu isu krusial yang menjadi sorotan Dinkes Jakarta adalah masalah pasien yang putus obat. Menurut data yang dirilis, sekitar 15% pasien TBC di Jakarta mengalami putus obat sebelum selesai mengikuti pengobatan secara penuh. Angka ini cukup signifikan dan menjadi hambatan utama dalam upaya pemberantasan TBC di ibu kota.

"Putus obat menjadi masalah besar karena dapat menyebabkan resistensi obat, sehingga pasien menjadi lebih sulit diobati dan risiko penularan semakin tinggi," jelas dr. Siti Aminah, Sp.P dari RSUP Persahabatan yang juga terlibat dalam program pengendalian TBC di Jakarta.

Beberapa faktor yang menyebabkan pasien putus obat antara lain adalah efek samping obat yang dirasakan pasien, stigma sosial terhadap penyakit TBC, serta kesulitan akses ke fasilitas kesehatan. Selain itu, beberapa pasien juga merasa telah sembuh meskipun pengobatannya belum selesai.

Upaya Pencegahan dan Penanggulangan

Untuk mengatasi masalah ini, Dinkes Jakarta telah meluncurkan berbagai program strategis. Salah satunya adalah program pengawasan langsung pengobatan pendek (Directly Observed Treatment Short-course/DOTS) yang telah diterapkan di puskesmas-puskesmas sejak 2015. Melalui program ini, petugas kesehatan secara langsung mengawasi pasien saat mengonsumsi obat.

"Kami juga bekerja sama dengan komunitas untuk meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya menyelesaikan pengobatan hingga tuntas. Kami memberikan edukasi tentang gejala TBC dan pentingnya pengobatan yang konsisten," tambah Widyastuti.

Selain itu, Dinkes juga bekerja sama dengan berbagai pihak seperti organisasi kesehatan masyarakat, swasta, dan komunitas untuk meningkatkan akses terhadap diagnosis dan pengobatan TBC. Terutama untuk kelompok rentan seperti tunawisma, pengemis, dan imigran ilegal yang sering kali kesulitan mendapatkan layanan kesehatan.

Tantangan di Masa Pandemi

Pandemi COVID-19 juga memberikan tantangan tersendiri bagi program pengendalian TBC di Jakarta. Banyak kasus TBC yang terdeteksi lebih lambat karena fokus kesehatan terbagi dengan penanganan COVID-19. Selain itu, stigma terhadap penyakit paru-paru juga membuat beberapa pasien enggan datang ke fasilitas kesehatan untuk diagnosis.

"Kami harus beradaptasi dengan situasi baru. Saat ini, kami mengintegrasikan layanan TBC dengan layanan kesehatan umum untuk memastikan pasien tetap mendapatkan akses terhadap diagnosis dan pengobatan," jelas dr. Siti Aminah.

Target Pemerintah Provinsi

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan penurunan angka kasus TBC sebesar 10% setiap tahunnya. Untuk mencapai target ini, Dinkes Jakarta akan terus memperkuat program-program yang ada serta meningkatkan koordinasi antar pihak terkait.

"Kami juga berencana meningkatkan kapasitas laboratorium di puskesmas untuk mempercepat diagnosis TBC. Selain itu, kami akan memberikan dukungan psikososial bagi pasien TBC untuk membantu mereka menyelesaikan pengobatan," pungkas Widyastuti.

Dengan berbagai upaya ini, diharapkan kasus TBC di Jakarta dapat dikendalikan dan angka kematian akibat TBC dapat turun signifikan dalam waktu dekat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter