03, 2026
Ekonomi

Larangan Keras Bahlil agar Ekspor SDA Tak Mampir ke Negara 'Yang Itu': Saya Nggak Bisa Diolah oleh Mereka

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/11/03/6ae8df3cf35e5-menko-bahlil-saat-pembukaan-minerba-convex-2026_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Kevin Handayani
Kevin Handayani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Menteri Bahlil: Ekspor Sumber Daya Alam Harus Hindari Negara 'Yang Itu'

Menteri Koordinator Bidang Maritim dan Investasi (Menko Marves) Bahlil Lahadalia menegaskan larangan keras terhadap ekspor sumber daya alam (SDA) Indonesia ke negara "yang itu". Menurutnya, Indonesia tidak bisa diolah oleh negara tersebut.

Komitmen tersebut diungkapkan Bahlil saat membuka acara Minerba CONVEX 2026 di Jakarta, Rabu (1/11). Dalam sambutannya, Bahlil menekankan bahwa Indonesia harus bijak dalam mengelola sumber daya alamnya demi kepentingan bangsa.

"Saya nggak bisa diolah oleh mereka," tegas Bahlil sebagaimana dilansir dari Antara.

Kebijakan Ekspor SDA yang Lebih Ketat

Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah sedang menyiapkan kebijakan ekspor SDA yang lebih ketat. Tujuannya adalah untuk memastikan bahwa sumber daya alam Indonesia memberikan manfaat maksimal bagi bangsa Indonesia, bukan untuk kepentingan negara lain yang dinilai tidak sejajar dengan kepentingan Indonesia.

"Kita harus bijak dalam mengekspor sumber day alam kita. Jangan sampai kita dieksploitasi oleh negara lain," ujarnya.

Menurut Bahlil, Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang sangat besar, namun potensi tersebut harus diolah dengan bijak untuk menghindari eksploitasi oleh negara lain. Ia mencontohkan beberapa sumber daya alam Indonesia yang sering menjadi incaran negara lain, seperti nikel, tembaga, dan minyak sawit.

Strategi Pengelolaan SDA Indonesia

Untuk mengelola sumber daya alam secara lebih baik, Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah akan menerapkan beberapa strategi. Pertama, meningkatkan nilai tambah dari sumber daya alam melalui pengembangan industri hilir. Dengan demikian, Indonesia tidak hanya mengekspor bahan mentah, tetapi juga produk olahan yang memiliki nilai jual lebih tinggi.

Kedua, pemerintah akan memastikan bahwa ekspor sumber daya alam memberikan keuntungan ekonomi yang maksimal bagi negara. Hal ini dilakukan dengan menetapkan kebijakan ekspor yang lebih rasional dan mengatur harga komoditas ekspor.

Ketiga, pemerintah akan meningkatkan kerjasama dengan negara-negara yang dianggap dapat memberikan keuntungan bagi Indonesia dalam pengelolaan sumber daya alam. Bahlil menekankan bahwa Indonesia akan memilih mitra bisnis secara selektif berdasarkan kepentingan nasional.

Reaksi dari Pelaku Industri

Kebijakan yang diumumkan Bahlil mendapat beragam reaksi dari pelaku industri. Beberapa pihak mendukung langkah tersebut dengan menyatakan bahwa pengelolaan sumber daya alam yang lebih baik akan meningkatkan kesejahteraan bangsa.

"Kami mendukung kebijakan Bapak Menko. Pengelolaan sumber daya alam yang lebih baik akan memberikan keuntungan jangka panjang bagi Indonesia," ujar Ketua Asosiasi Industri Pertambangan Indonesia (APBI) yang meminta namanya tidak disebutkan.

Akan tetapi, ada juga pihak yang khawatir kebijakan ini akan menghambat investasi asing di sektor pertambangan. Mereka berpendapat bahwa kebijakan ekspor yang terlalu ketat akan membuat investor berpikir dua kali untuk berinvestasi di Indonesia.

Visi Indonesia sebagai Pemasok Global

Di tengah berbagai reaksi tersebut, Bahlil menegaskan bahwa kebijakan ini sejalan dengan visi Indonesia sebagai pemasok global yang andal dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa Indonesia tidak menutup diri dari investasi asing, namun menekankan bahwa investasi harus sejalan dengan kepentingan nasional.

Dengan kebijakan ini, pemerintah berharap dapat mengubah pola pengelolaan sumber daya alam Indonesia yang selama ini masih bersifat eksploitatif menjadi lebih berkelanjutan dan memberikan keuntungan bagi bangsa.

Tantangan di Depan

Meskipun tujuannya mulia, implementasi kebijakan ini tidak akan mudah. Pemerintah dihadapkan pada berbagai tantangan, mulai dari tekanan dari negara-negara pengimpor, hamburan regulasi di tingkat daerah, hingga tantangan teknis dalam mengembangkan industri hilir.

Bahlil mengakui tantangan ini, namun menegaskan bahwa pemerintah akan terus berupaya untuk mengatasi segala hambatan demi mencapai tujuan pengelolaan sumber daya alam yang lebih baik.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kevin Handayani

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter