28, 2026
Teknologi

Mentan Amran: Harga Telur Ayam Mulai Turun Usai Aparat Tindak Anomali

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2017/04/06/58e5efa4bd6b1-harga-telur-ayam-anjlok_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Teguh Setiawan
Teguh Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Harga Telur Ayam Mulai Turun Usai Aparat Tindak Anomali

Setelah beberapa waktu mengalami lonjakan harga yang signifikan, harga telur ayam di pasaran mulai menunjukkan tren penurunan. Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas) Amran Sulaiman mengatakan bahwa penurunan harga ini terjadi setelah aparat tindak atas adanya anomali dalam distribusi dan harga telur ayam.

Menurut Amran, pemerintah telah melakukan berbagai upaya untuk menekan harga telur ayam yang sebelumnya meroket hingga dua kali lipat dari harga normal. "Kita telah melakukan koordinasi dengan berbagai pihak termasuk Kementerian Perdagangan, Kementerian Dalam Negeri, dan pihak terkait lainnya. Hasilnya, sejak beberapa hari terakhir harga telur ayam mulai stabil dan bahkan menurun," ujar Amran dalam konferensi pers yang diselenggarakan pada Rabu (10/5).

Peningkatan Pasokan dan Penindakan Anomali

Amran menjelaskan bahwa penurunan harga ini dipengaruhi oleh dua faktor utama. Pertama, peningkatan pasokan telur ayam dari peternak ke pasar. Kedua, tindakan tegas aparat terhadap praktik-praktik yang dianggap menyebabkan lonjakan harga tidak wajar.

"Kita menemukan adanya praktikal penimbunan oleh seorang distributor di Jawa Barat yang menyebabkan kelangkaan bukan karena produksi menurun, tapi karena distribusi terhambat. Kita sudah menindak tegas praktik tersebut dan memastikan telur tersebut didistribusikan kembali ke pasaran," ujar Amran.

Amran juga menambahkan bahwa pemerintah telah memfasilitasi pertemuan antara peternak dengan pengusaha penggilingan pangan (usaha tani) untuk memastikan harga telur dapat terjangkau bagi konsumen sambil tetap memberikan keuntungan bagi para peternak.

Mekanisme Pengendalian Harga

Untuk mengantisipasi kenaikan harga di masa depan, pemerintah berencana mengaktifkan kembali Pasar Inflasi (PI) yang tersebar di berbagai daerah. Melalui pasar ini, telur ayam akan dijual dengan harga terjangkau langsung dari pemerintah kepada masyarakat.

"Selain itu, kita juga akan meningkatkan koordinasi antarpemerintah daerah dan pusat dalam pengawasan harga dan distribusi komoditas pangan. Kita tidak akan lagi membiarkan harga telur atau komoditas pangan lainnya melonjak tidak wajar," jelas Amran.

Data Bapanas menunjukkan bahwa harga telur ayam di tingkat konsumen pernah mencapai Rp30.000 per kilogram di beberapa wilayah, sebelum akhirnya menurun menjadi kisaran Rp25.000 per kilogram pada pekan ini. Harga ini masih di atas harga normal yang berkisar antara Rp20.000 hingga Rp22.000 per kilogram.

Respons dari Peternak dan Konsumen

Ketua Asosiasi Peternak Ayam Indonesia (Asopindo) Slamet Hidayat menyambut baik upaya pemerintah dalam menstabilkan harga telur ayam. Namun, Slamet mengingatkan agar penurunan harga tidak terlalu drastis sehingga merugikan peternak.

"Kita mengapresiasi upaya pemerintah yang sudah membantu menormalkan harga. Namun, kita juga meminta agar harga tidak turun terlalu rendah karena akan merugikan peternak. Harga sekitar Rp22.000 hingga Rp23.000 per kilogram adalah harga yang sehat bagi peternak dan konsumen," ujar Slamet.

Sementara itu, konsumen menyambut baik penurunan harga meskipun masih mengharapkan harga dapat kembali ke harga normal. Ibu Rumah Tangga (IRT) Siti Aminah mengatakan bahwa harga telur yang sebelumnya mahal membuatnya harus mengurangi konsumsi telur untuk keluarganya.

"Selama harga tinggi, saya hanya membeli satu butir telur per hari untuk anak-anak saya. Sekarang harga mulai turun, saya bisa kembali membeli tiga butir telur setiap harinya. Semoga harga bisa stabil dan terjangkau," ucap Siti yang biasa berbelanja di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur.

Langkah Jangka Panjang

Amran menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada penurunan harga jangka pendek, tetapi juga mempersiapkan langkah-langkah jangka panjang untuk menjaga stabilitas harga telur ayam. Salah satunya adalah melalui program pembenihan dan penyediaan pakan ternak yang terjangkau.

"Kita sedang menyiapkan program untuk meningkatkan produksi telur ayam secara nasional melalui peningkatan mutu bibit dan penyediaan pakan yang terjangkau. Dengan produksi yang memadai, kita bisa menghindari lonjakan harga di masa depan," jelas Amran.

Menurut data Kementerian Pertanian, produksi telur ayam nasional pada tahun 2022 mencapai 1,5 juta ton per tahun dengan konsumsi per kapita sebesar 15,2 kg per tahun. Potensi ini dianggap cukup untuk memenuhi kebutuhan domestik bahkan dengan kelebihan untuk ekspor.

Dengan berbagai upaya yang telah dan akan dilakukan, pemerintah berharap harga telur ayam dapat kembali stabil dan terjangkau bagi masyarakat. Pengawasan ketat terhadap distribusi dan harga dianggap sebagai kunci untuk mencegah terulangnya lonjakan harga di masa depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Setiawan

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter