Mentan Amran Sebut Ada Middle Man di Peternakan: Kami Tindak Tegas!
MENTAN Amran Sulaiman mengungkap adanya praktik middle man atau perantara dalam industri peternakan yang menyebabkan harga tidak stabil dan peternak merugi. Dalam konferensi pers di Jakarta, Mentan menegaskan pemerintah akan mengambil langkah tegas untuk mengatasi masalah ini demi kesejahteraan para peternak.
"Kami mendapati ada praktik middle man yang meresahkan di sektor peternakan. Para peternak sering kali mendapatkan harga yang tidak sepadan dengan hasil kerja keras mereka karena adanya perantara yang mengambil keuntungan berlebihan," ujar Mentan Amran Sulaiman dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Kantor Kementerian Pertanian, Jakarta, Rabu (15/3).
Dampak Buruk Middle Man bagi Peternak
Menurut Mentan, adanya praktik middle man di sektor peternakan telah memberikan dampak buruk bagi para peternak. Harga ternak yang dijual peternak sering kali jauh lebih rendah dibandingkan harga pasaran akibat adanya perantara yang menaikkan harga secara signifikan saat sampai di konsumen akhir.
"Kami mendapati harga di tingkat peternak bisa jauh lebih rendah dibandingkan harga di pasar. Ini tidak adil karena peternak bekerja keras untuk merawat ternak tapi tidak mendapatkan keuntangan yang sepadan," jelas Mentan.
Ia mencontohkan, harga sapi potong di tingkat peternak bisa mencapai Rp35.000 per kilogram, namun saat sampai di pasar konsumen harga bisa melonjak hingga Rp70.000 per kilogram. Selisih harga ini menurut Mentan tidak sebanding dengan biaya transportasi dan lainnya, melainkan karena adanya perantara yang mengambil keuntungan berlebihan.
Langkah Tegas Pemerintah
Untuk mengatasi masalah ini, Mentan mengatakan pemerintah akan mengambil langkah-langkah tegas. Salah satunya adalah dengan membangun sistem distribusi yang lebih efisien dan transparan sehingga para peternak dapat menjual hasilnya langsung ke pasar tanpa melalui banyak perantara.
"Kami akan membangun sistem integrasi agribisnis yang melibatkan peternak, pemodal, hingga pasar. Tujuannya adalah untuk meminimalkan peran perantara sehingga keuntungan bisa dirasakan langsung oleh peternak," jelas Mentan.
Selain itu, pemerintah juga akan memperkuat peran koperasi peternak sebagai lembaga yang dapat menjembatani antara peternak dengan konsumen. Dengan koperasi yang kuat, diharapkan peternak memiliki bargaining power yang lebih tinggi dalam menentukan harga.
"Koperasi adalah solusi utama. Melalui koperasi, peternak bisa menjual produknya dalam jumlah besar sehingga harga yang didapatkan lebih baik. Koperasi juga bisa melakukan negosiasi langsung dengan pembeli besar seperti supermarket dan restoran," tambah Mentan.
Program Pendukung Peternak
Pemerintah juga akan melalui sejumlah program pendukung untuk peternak. Salah satunya adalah program penguatan akses modal melalui kredit tanpa agunan (KUR) dengan suku bunga rendah khusus untuk peternak.
"Kami sedang menyiapkan program KUR khusus peternak dengan suku bunga yang lebih rendah dan prosedur yang lebih mudah. Tujuannya adalah membantu peternak dalam mengembangkan usahanya," ungkap Mentan.
Selain itu, pemerintah juga akan meningkatkan pembangunan infrastruktur di daerah-daerah potensial peternakan. Termasuk pembangunan akses jalan, pasar hewan, dan fasilitas pemotongan dan pengolahan daging (abattoir) yang memenuhi standar keamanan pangan.
Tantangan di Lapangan
Mentan mengakui bahwa mengatasi masalah middle man di sektor peternakan bukanlah hal yang mudah. Banyak tantangan yang dihadapi, mulai dari sistem distribusi yang sudah mapan hingga peran perantara yang sudah menjadi budaya di beberapa daerah.
"Tantangannya memang besar, tapi kami yakin bisa diatasi. Kita perlu perubahan sistem dan mentalitas. Para peternak perlu sadar bahwa mereka harus bersatu melalui koperasi agar tidak lagi menjadi korban praktik tidak sehat ini," kata Mentan.
Ia juga meminta dukungan dari semua pihak, termasuk pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat untuk bersama-sama membangun sistem peternakan yang lebih sehat dan adil.
Target Jangka Panjang
Mentan menargetkan dalam jangka panjang, Indonesia mampu mengurangi ketergantungan pada impor ternak dan produk hewan. Dengan sistem peternakan yang lebih efisien dan adil, diharapkan produksi dalam negeri bisa meningkat dan peternak semaya sejahtera.
Komentar (0)