01, 2026
Nasional

Pagelaran Langen Tayub Pacitan Catatkan Rekor MURI dengan 5.000 Penari

Pagelaran Rakyat Tarian Langen Tayub di Pacitan mencatat rekor MURI dengan 5.000 penari. Acara ini memperkuat kecintaan masyarakat terhadap budaya.]]>

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Pagelaran Langen Tayub Pacitan Catatkan Rekor MURI dengan 5.000 Penari

Pagelaran Langen Tayub Pacitan Raih Rekor MURI dengan 5.000 Penari

Pacitan - Pagelaran Langen Tayub tradisional di Pacitan, Jawa Timur, berhasil memecahkan Rekor Indonesia (MURI) dengan menggelar tarian massal melibatkan 5.000 penari. Acara yang digelar pada Sabtu (15/7) malam ini menorehkan prestasi gemilang dalam melestarikan budaya lokal dan menunjukkan kekayaan seni daerah Indonesia.

Prestasi Gemilang dalam Pelestarian Budaya

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Pacitan, Budi Santoso, menyatakan bahwa pencapaian rekor MURI ini merupakan bukti nyata komitment masyarakat Pacitan dalam melestarikan warisan budaya leluhur. "Langen Tayub bukan sekadar pertunjukan, tapi bagian dari jiwa masyarakat Pacitan. Dengan menggelar pagelaran berskala besar ini, kita ingin menunjukkan betapa kuatnya kecintaan kita terhadap budaya sendiri," ujarnya.

Pencatatan rekor MURI dilakukan tim dari Museum Rekor Indonesia yang hadir langsung dalam acara tersebut. Para penari menampilkan gerakan yang serasi dan terkoordinasi dengan baik selama lebih dari satu jam, di bawah arahan para maestro Langen Tayub setempat.

Sejarah dan Makna Langen Tayub

Langen Tayub merupakan bentuk kesenian tradisional yang telah ada di Pacitan sejak zaman dahulu. Kesenian ini menggabungakan unsur tari, musik, dan teater yang menjadi penceritaan tentang kehidupan masyarakat, nilai-nilai moral, dan mitos lokal. Nama "Langen Tayub" sendiri memiliki makna "cinta" dan "menari" yang mencerminkan keindahan dan keharmonisan dalam seni tersebut.

Menurut sejarahwan lokal, Dr. Suryo Wibowo, Langen Tayub berkembang pesat pada era Kerajaan Majapahit dan menjadi bagian dari ritual adat istiadat masyarakat Jawa Timur khususnya di daerah Pacitan. "Awalnya, Langen Tayub diperuntukkan untuk ritual syukuran dan upacara adat, seiring perkembangan waktu, kesenian ini menjadi hiburan masyarakat yang digelar dalam berbagai acara penting," jelasnya.

Proses Persiapan yang Intensif

Untuk mencapai rekor MURI ini, panitia telah melakukan persiapan selama tiga bulan. Sebanyak 5.000 penari dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, pegawai negeri sipil, hingga masyarakat umum, dilatih secara intensif oleh para seniman Langen Tayub berpengalaman.

Ketua Panitia Pelaksana, Ahmad Yani, mengungkapkan bahwa tantangan terbesar adalah menyatukan gerakan dan sinkronisasi dari jumlah penari yang begitu banyak. "Kita membagi peserta dalam beberapa kelompok dan melakukan latihan bertahap. Setiap kelompok dipimpin oleh seorang instruktur berpengalaman untuk memastikan koordinasi terjaga dengan baik," terangnya.

Para penari menggunakan kostum tradisional khas Pacitan yang terbuat dari kain batik dan disertai aksesoris perhiasan khas Jawa. Busana yang dikenakan para penari ini menjadi daya tarik tersendiri karena mempertahankan keaslian busana tradisional yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Respons Positif dari Berbagai Pihak

Pencapaian rekor MURI ini mendapat apresiasi dari berbagai pihak. Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, mengapresiasi upaya masyarakat Pacitan dalam melestarikan budaya lokal. "Ini adalah kebanggaan bagi seluruh masyarakat Jawa Timur. Pacitan menunjukkan bahwa budaya lokal adalah aset berharga yang perlu dilestarikan dan diperkenalkan kepada generasi muda," ujarnya dalam sambutannya secara virtual.

Para wisatawan yang hadir dalam acara ini juga tampak terpukau dengan keindahan Langen Tayub. Wisatawan asal Jakarta, Rina Susanti, mengaku terkesan dengan skala pagelaran yang begitu megah. "Saya pertama kali menyaksikan Langen Tayub dalam skala sebesar ini. Kesenian ini sungguh memukau dan menunjukkan kekayaan budaya Indonesia yang luar biasa," kata Rina.

Implikasi bagi Pariwisata dan Pendidikan

Selain sebagai pencapaian prestisius, rekor MURI Langen Tayub diharapkan dapat menjadi pendorong bagi pengembangan pariwisata di Pacitan. Dinas Pariwisata dan Kebudayaana berencana menjadikan Langen Tayub sebagai salah satu produk unggulan pariwisata budaya yang dapat menarik wisatawan baik domestik maupun mancanegara.

Dalam bidang pendidikan, Langen Tayub akan dimasukkan sebagai materi pembelajaran di sekolah-sekolah di Pacitan. "Kami berencana untuk membuat kurikulum khusus tentang Langen Tayub agar generasi muda lebih mengenal dan mencintai budaya daerah mereka," jelas Budi Santoso dari Dinas Pariwisata.

Pencapaian rekor MURI ini menunjukkan bahwa tradisi dan budaya lokal masih memiliki tempat yang penting dalam kehidupan masyarakat modern. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan partisipasi aktif masyarakat, harapannya Langen Tayub dapat terus berkembang dan menjadi warisan budaya yang hidup untuk generasi mendatang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter