Pesawat Berhasil Mendarat, Tapi Pramugari Tewas Akibat Angin Kencang
Sebuah insiden tragis menimbi seorang pramugari maskapai penerbangan internasional saat pesawat yang dinaikinya berhasil mendarat dengan aman di Bandara Internasional Soekarno-Hatta, Tangerang, Banten. Korban tewas diduga akibat terseret angin kencang saat sedang berada di luar pesawat setelah prosedur pendaratan selesai.
Kepala Bagian Humas PT Angkasa Pura II (Persero) Bandara Soekarno-Hatta, Yudi Mastur, mengkonfirmasi adanya insiden tersebut. Menurutnya, kejadian ini terjadi pada Rabu (15/3) sekira pukul 14.30 WIB. Korban berinisial R (34), seorang pramugari yang bertugas di pesawat jenis Boeing 777-300ER rute Jakarta-Amsterdam.
"Pesawat sudah mendarat dengan aman di landasan pacu 25R. Setelah prosedur pendaratan selesai, korban bersama rekan sejawatnya sedang melakukan pengecekan visual di sekitar pesawat. Tiba-tiba angin kencang bertiup dan korban terseret hingga jatuh dari posisinya," ujar Yudi dalam keterangannya, Kamis (16/3).
Kronologi Insiden
Berdasarkan keterangan saksi mata, korban bersama beberapa pramugari lain sedang berada di dekat sayap kanan pesawat saat proses penurunan penumpang berlangsung. Angin kencang yang bertiup dengan kecepatan diperkirakan mencapai 60-70 km/jam tiba-tiba menghantam area tersebut.
Tim medis yang mendapat laporan segera bergerak ke lokasi. Namun, setiba di rumah sakit, korban dinyatakan tewas dunia oleh tim dokter. "Korban mengalami luka serius di bagian kepala dan dada yang diduga akibat terjatuh dari ketinggian saat terseret angin," ujar seorang petugas medis yang tidak mau disebutkan namanya.
Respon Maskapai dan Pihak Berwenang
Maskapai yang bersangkutan telah mengumumkan dukacita mendalam atas kejadian tersebut. "Kami sedang melakukan koordinasi dengan pihak berwenang untuk melalikan penyelidikan internal. Keselamatan dan kesejahteraan karyawan adalah prioritas utama bagi kami," ujar juru bicara maskapai tersebut.
Sementara itu, Kepala Basarnas Soekarno-Hatta, Eko Haryugoro, mengatakan tim penyelidik dari KNKT (Komisi Nasional Keselamatan Transportasi) telah turun ke lokasi untuk mengumpulkan bukti dan keterangan saksi. "Kami sedang mengumpulkan semua data yang relevan untuk mengetahui penyebab pasti kejadian ini," ujar Eko.
Diketahui, cuaca di wilayah Jabodetabek pada Rabu siang memang tidak stabil. BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) mengeluarkan peringatan dini adanya potensi angin kencang disertai hujan lebat di beberapa wilayah, termasuk sekitar Bandara Soekarno-Hatta.
Prosedur Keselamatan yang Diperlukan
Insiden ini memunculkan kembali pertanyaan mengenai prosedur keselamatan bagi kru pesawat saat berada di luar pesawat, terutama dalam kondisi cuaca ekstrem. Menurut seorang pilot senior yang tidak mau disebutkan namanya, pramugari dan ground crew harus selalu waspada terhadap perubahan kondisi cuaca.
Kepala Divisi Penerbangan Sipil Direktorat Jenderal Perhubungan Udara, Novie Riyanto, menambahkan bahwa pihaknya akan mengevaluasi kembali prosedur operasional di bandara-bandra besar, terutama mengenai penanganan kru pesawat saat cuaca buruk.
Duka Cita Keluarga dan Rekan Kerja
Keluarga besar korban masih dalam keadakan syok mendengar kabar duka tersebut. "Kami masih belum bisa menerima kenyataan ini. R adalah anak yang baik, penyayang, dan profesional dalam pekerjaannya," ucap salah seorang kerabat korban.
Di media sosial, banyak rekan kerja korban yang menyampaikan dukacita. "Kami kehilangan sahabat sekaligus rekan kerja yang luar biasa. Semoga jiwanya tenang dan keluarga diberi kekuatan," tulis salah seorang teman dekat korban.
Insiden ini menunjukkan bahwa bahkan setelah pesawat mendarat dengan aman, tantangan keselamangan bagi kru dan penumpang belum tentu berakhir. Pihak berwenang diharapkan dapat melakukan evaluasi menyeluruh guna mencegah insiden serupa terulang kembali di masa depan.
Komentar (0)