31, 2026
Teknologi

Saat Wapres Mengundurkan Diri Gara-Gara Ribut dengan Presiden

Wakil Presiden Tanzania, Emmanuel Nchimbi, mengundurkan diri, mencatat sejarah sebagai wakil presiden pertama yang mundur.]]>

Teguh Setiawan
Teguh Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Saat Wapres Mengundurkan Diri Gara-Gara Ribut dengan Presiden

Saat Wapres Mengundurkan Diri Gara-Gara Ribut dengan Presiden

Sejarah politik Indonesia mencatat beberapa kasus di mana Wakil Presiden (Wapres) mengundurkan diri dari jabatannya. Fenomena langka ini umumnya terjadi akibat konflik atau ketidakcocokan dengan Presiden yang sedang menjabat. Kasus-kasus ini menunjukkan kompleksitas struktur kekuasaan tertinggi di negara ini dan dampaknya terhadap stabilitas pemerintahan.

Konflik Internal Kabinet

Salah satu kasus paling dikenal terjadi pada era Orde Baru ketika Wapres Adam Malik mengundurkan diri pada tahun 1983. Meskipun secara resmi pengunduran diri ini disebutkan karena alasan kesehatan, banyak analis politik yang melihat adanya ketegangan antara Adam Malik dengan Presiden Soeharto. Adam Malik yang sebelumnya merupakan salah satu pendiri Partai Murba dan memiliki latar belakang ideologi yang berbeda dengan Soeharto, diyakini memiliki perbedaan pandangan yang signifikan mengenai berbagai kebijakan internal maupun luar negeri.

Pengunduran diri Adam Malik menunjukkan bahwa meskipun dalam sistem pemerintahan yang sangat terpusat seperti Orde Baru, konflik di tingkat tertinggi masih dapat terjadi. Kasus ini juga menggambarkan bagaimana alasan resmi pengunduran diri sering kali tidak mencerminkan kondisi sebenarnya di balik keputusan tersebut.

Perubahan Politik Pas Reformasi

Setelah reformasi berakhir pada tahun 1998, sistem politik Indonesia mengalami perubahan drastis dengan adanya reformasi di berbagai sektor termasuk politik. Pada periode ini, Indonesia mengalami beberapa pergantian presiden dan wakil presiden, namun belum terjadi kasus pengunduran diri wakil presiden karena konflik dengan presiden hingga tahun 2001.

Kasus terjadi pada masa pemerintahan Presiden Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dengan Wapres Megawati Soekarnoputri. Meskipun tidak secara langsung mengundurkan diri, hubungan keduanya sangat tegang dan berujung pada pemakzulan Gus Dur oleh DPR. Megawati yang kemudian menggantikan Gus Dur sebagai presiden memilih Hamzah Haz sebagai wakilnya. Kasus ini menunjukkan bahwa konflik antara presiden dan wakil presiden dapat berdampak signifikan terhadap kelangsungan pemerintahan.

Kasus Jusuf Kalla dan Boediono

Pada era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), terjadi dua kali pergantian wakil presiden yang menarik perhatian. Pada periode pertama (2004-2009), SBY memilih Jusuf Kalla sebagai wakilnya. Hubungan keduanya terbilang harmonis dan tidak ada laporan konflik signifikan. Namun pada periode kedua (2009-2014), SBY memilih Boediono sebagai wakilnya, menggantikan Jusuf Kalla yang tidak dapat mencalonkan diri lagi karena sudah menjabat dua periode.

Hubungan antara SBY dan Boediono juga relatif stabil, meskipun ada beberapa perbedaan pendapat mengenai kebijakan ekonomi. Boediono yang latar belakangnya sebagai ekonom dan mantan Gubernur Bank Indonesia sering kali memiliki pandangan yang lebih teknis dalam mengambil keputusan, sementara SBY cenderung lebih politis. Namun perbedaan ini tidak mengakibatkan konflik yang berujung pada pengunduran diri.

Konflik pada Era Jokowi

Pada era pemerintahan Presiden Joko Widodo, terjadi kasus pengunduran diri Wapres Jusuf Kalla yang cukup mengejutkan. Pada September 2019, menjelang akhir masa jabatan pertamanya, Jusuf Kalla mengumumkan pengunduran dirinya sebagai wakil presiden. Meskipun secara resmi disebutkan karena alasan personal, banyak analis yang melihat adanya ketidaknyamanan antara Jusuf Kalla dengan Jokowi terkait beberapa kebijikan dan arah pemerintahan.

Beberapa bulan setelah pengumuman tersebut, Jokoli memilih Ma'ruf Amin sebagai wakilnya untuk periode kedua. Kasus ini menunjukkan bahwa meskipun dalam sistem politik yang lebih modern dan demokratis, konflik antara presiden dan wapres masih dapat terjadi dan berdampak pada stabilitas eksekutif.

Dampak Terhadap Sistem Politik

Pengunduran diri wakil presiden karena konflik dengan presiden memiliki dampak signifikan terhadap sistem politik Indonesia. Secara konstitusional, pengunduran diri wapres harus diikuti dengan pengangkatan wakil presiden baru melalui mekanisme yang telah ditetapkan. Proses ini dapat mengganggu kelancaran pemerintahan dan menimbulkan ketidakpastian politik.

Selain itu, kasus-kasus ini juga menunjukkan pentingnya komunikasi dan koordinasi yang baik antara presiden dan wapres. Dalam sistem pemerintahan presidensial seperti di Indonesia, presiden dan wapres harus bekerja sama secara harmonis untuk mencapai tujuan bersama. Ketegangan di tingkat tertinggi dapat berdampak negatif terhadap implementasi kebijakan dan citra negara di mata masyarakat internasional.

Meskipun kasus pengunduran diri wapres karena konflik dengan presiden relatif langka dalam sejarah Indonesia, fenomena ini tetap menjadi pelajaran berharga bagi para pemimpin negara untuk membangun hubungan yang harmonis dan sinergis di tingkat eksekutif tertinggi. Stabilitas pemerintahan pusat sangat bergantung pada kemampuan presiden dan wapres untuk bekerja sama meskipun memiliki latar belakang dan pandangan yang berbeda.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Teguh Setiawan

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter