03, 2026
Ekonomi

Bos Properti Merapat, Gen Z Ternyata Pilih Ngontrak Rumah di sini

Fenomena Gen Z lebih memilih menyewa rumah daripada membeli hunian. Tingginya harga dan lokasi jauh dari pusat aktivitas jadi alasan utama.]]>

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Bos Properti Merapat, Gen Z Ternyata Pilih Ngontrak Rumah di sini

Bos Properti Merapat, Gen Z Ternyata Pilih Ngontrak Rumah di sini

Perkembangan pasar properti di Indonesia menunjukkan pergeseran menarik, terutama dalam pola permintaan generasi milenial dan Gen Z. Meskipun sebelumnya dianggap sebagai generasi yang berpotensi besar dalam memiliki rumah, kenyataannya menunjukkan bahwa banyak dari mereka lebih memilih untuk menyewa atau mencontrak rumah. Fenomena ini menarik perhatian banyak pengembang properti dan investor untuk merapat ke segmen pasar yang semakin berkembang ini.

Pergeseran Preferensi Generasi Muda

Generasi Z, yang umumnya lahir antara tahun 1997 hingga 2012, menunjukkan pola perilaku yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya dalam hal kepemilikan properti. Survei terbaru yang dilakukan oleh lembaga riset pasar menunjukkan bahwa 68% responden Gen Z lebih memilih untuk menyewa rumah daripada membelinya. Angka ini signifikan mengingat generasi ini merupakan calon pemain baru di pasar properti yang seharusnya menjadi pemasok permintaan baru.

Faktor utama yang mendorong preferensi ini adalah fleksibilitas yang ditawarkan oleh sistem sewa. Gen Z, yang umumnya masih dalam tahap awal karir atau baru memasuki dunia kerja, menganggap kepemilikan rumah sebagai beban finansial yang berat. Dengan biaya hidup yang terus meningkat, terutama di kota-kota besar, mereka lebih memilih untuk mengalokasikan income mereka untuk pengembangan diri, investasi, atau pengalaman daripada untuk cicilan rumah jangka panjang.

Respon dari Pengembang Properti

Respon dari industri properti terhadap pergeseran ini cukup cepat. Banyak pengembang mulai mengubah strategi mereka dari fokus pada produk jual ke produk sewa. Kontrak kerja sama (CKS) atau sistem sewa jangka panjang menjadi pilihan favorit bagi pengembang untuk menarik minat generasi muda ini.

"Kami melihat adanya peluang besar di segmen sewa untuk generasi muda," ujar Ahmad Prabowo, Direktur Utama PT Properti Nusantara Sejahtera, salah satu pengembang properti ternama. "Mereka menginginkan lokasi yang strategis, dekat dengan tempat kerja atau kampus, serta fasilitas yang lengkap. Kita harus memenuhi kebutuhan ini dengan menyediakan produk yang sesuai dengan gaya hidup mereka."

Pengembang mulai menawarkan berbagai produk hunian sewa dengan kontrak fleksibel, mulai dari 6 bulan hingga beberapa tahun. Beberapa bahkan menawarkan sistem sewa dengan opsi membeli di kemudian hari, yang memberikan kebebasan bagi penyewa untuk memutuskan apakah mereka ingin tetap menyewa atau beralih kepemilikan sesuai kondisi finansial mereka di masa depan.

Lokasi Favorit Gen Z

Survei pasar juga mengungkapkan beberapa lokasi yang menjadi favorit bagi Gen Z dalam memilih tempat tinggal sewa. Jakarta Selatan, Bali, dan beberapa kota besar seperti Surabaya dan Bandung menjadi pilihan utama karena aksesibilitas terhadap pusat kerja, hiburan, dan komunitas yang dinamis.

"Lokasi adalah faktor kunci bagi kami," kata Siti Nurhaliza, sepekerja kantoran berusia 24 tahun yang tinggal di sewa apartemen di Jakarta Selatan. "Saya butuh tempat yang dekat dengan kantor dan memiliki akses mudah ke transportasi umum. Selain itu, fasilitas seperti gym, kolam renang, dan area coworking menjadi nilai tambah yang sangat saya pertimbangkan."

Wilis area di Surabaya misalnya, menjadi salah satu lokasi yang populer di kalangan Gen Z karena lokasinya yang strategis dan harga sewa yang relatif terjangkau. Begitu pula dengan daerah-sekitar kampus di kota-kota besar yang menjadi pilihan utama bagi mahasiswa dan fresh graduate.

Tantangan dan Peluang

Meskipun menawarkan peluang besar, pasar sewa untuk generasi muda juga menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah standarisasi harga yang masih bervariasi tergantung lokasi dan fasilitas. Selain itu, masalah regulasi sewa yang kurang jelas juga menjadi hambatan bagi beberapa penyewa dan pengembang.

Di sisi lain, peluang investasi di sektor ini tetap menjanjikan. Dengan permintaan yang stabil dan terus meningkat, properti sewa menjadi aset yang menarik bagi investor jangka panjang. Beberapa perusahaan properti bahkan mulai mengembangkan model bisnis khusus yang fokus pada penyediaan hunian sewa dengan standar internasional untuk menarik minat ekspatriat dan profesional lokal yang menginginkan kualitas hidup tinggi.

Dengan perkembangan ini, tampaknya industri properti perlu terus beradaptasi dengan perubahan preferensi generasi muda. Fleksibilitas, kualitas, dan lokasi menjadi tiga pilar utama yang harus diperhatikan dalam merancang produk properti di masa depan. Bagaimanakah pengembang properti dapat terus memenuhi kebutuhan yang terus berkembang ini, hanya waktu yang akan menjawabnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter