26, 2026
Olahraga

Di Era Suku Bunga Tinggi, Ini Instrumen Investasi yang Menarik

CIMB Niaga proyeksikan BI Rate akan naik sekali lagi. Investor disarankan mengunci imbal hasil obligasi yang tinggi sebelum suku bunga berbalik.]]>

Andi Prasetyo
Andi Prasetyo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 1 dibaca

Di Era Suku Bunga Tinggi, Ini Instrumen Investasi yang Menarik

Di Era Suku Bunga Tinggi, Ini Instrumen Investasi yang Menarik

Jakarta – Periode suku bunga tinggi tengah menjadi tantangan sekaligus peluang bagi para investor. Kenaikan suku bunga acuan yang dilakukan bank-bank sentral di berbagai negara untuk meredam inflasi membuat biaya pinjaman melambung. Namun di sisi lain, kondisi ini justru meningkatkan daya tarik sejumlah instrumen investasi berisiko rendah yang imbal hasilnya mengikuti pergerakan suku bunga.

Bagi investor, memahami instrumen mana yang unggul di era bunga tinggi menjadi kunci agar portofolio tetap tumbuh tanpa terpapar risiko yang berlebihan. Berikut sejumlah instrumen investasi yang dinilai menarik untuk diamati.

1. Deposito

Deposito merupakan salah satu instrumen yang paling langsung merasakan manfaat kenaikan suku bunga. Ketika suku bunga acuan naik, bank umumnya menaikkan bunga deposito guna menarik dana nasabah. Imbal hasil yang terkunci selama tenor tertentu memberikan kepastian arus pendapatan, sesuatu yang sulit didapat pada instrumen berbasis pasar.

Kelebihan lainnya adalah perlindungan dari Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) hingga batas tertentu, sehingga risiko krediturnya sangat rendah. Meski demikian, investor perlu membandingkan penawaran bunga antarbank dan memperhatikan ketentuan pencairan sebelum jatuh tempo yang umumnya dikenai penalti.

2. Surat Berharga Negara (SBN)

Obligasi pemerintah atau Surat Berharga Negara juga menjadi magnet di tengah suku bunga tinggi. Yield SBN yang cenderung meningkat mengikuti kenaikan suku bunga menawarkan imbal hasil kompetitif dibanding instrumen riil maupun simpanan konvensional.

Untuk investor ritel, pemerintah secara berkala menerbitkan SBN ritel seperti Ori dan Sukuk Ritel yang dapat dibeli dengan nominal relatif terjangkau melalui aplikasi mitra distribusi. Selain kupon yang menarik, pembayaran bunga yang rutin menjadikan SBN cocok bagi investor yang mencari arus kas stabil. Risiko utamanya terletak pada fluktuasi harga jika obligasi dijual sebelum jatuh tempo di pasar sekunder.

3. Reksa Dana Pasar Uang

Reksa dana pasar uang menempati posisi menarik bagi investor yang menginginkan likuiditas tinggi dengan risiko minimal. Instrumen ini menginvestasikan dana pada efek utang bersifat hutang berjangka waktu kurang dari satu tahun, seperti deposito berjangka dan surat berharga.

Saat suku bunga naik, nilai aktiva bersih reksa dana pasar uang umumnya ikut meningkat karena portofolionya cepat berputar mengikuti yield terbaru. Instrumen ini juga cocok sebagai tempat parkir dana darurat atau dana yang akan dipakai dalam waktu dekat.

4. Saham Defensif Berdividen Tinggi

Meski suku bunga tinggi kerap menekan valuasi saham, sektor defensif seperti perbankan, telekomunikasi, dan barang konsumer dasar justru relatif bertahan. Emiten perbankan, misalnya, dapat memperoleh manfaat dari margin bunga bersih yang melebar ketika suku bunga naik.

Saham-saham tersebut biasanya memiliki rekam jejak pembagian dividen yang konsisten. Bagi investor jangka panjang, dividen dapat menjadi sumber penghasilan yang membantu mengimbangi tekanan pada harga saham di masa ketidakpastian.

5. Emas sebagai Diversifikasi

Emas kerap dijadikan alat lindung nilai ketika pasar finansial bergolak. Meskipun bunga tinggi meningkatkan biaya kesempatan memegang emas karena tidak memberikan imbal hasil, logam mulia tetap relevan sebagai diversifikasi portofolio menghadapi gejolak geopolitik dan risiko resesi.

Alokasi yang wajar, misalnya lima sampai sepuluh persen portofolio, dinilai dapat membantu meredam volatilitas keseluruhan investasi investor.

Pertimbangan Sebelum Berinvestasi

Para praktisi keuangan umumnya mengingatkan bahwa tidak ada satu instrumen yang cocok untuk semua orang. Pemilihan instrumen harus disesuaikan dengan profil risiko, tujuan investasi, serta horizon waktu masing-masing investor. Investor agresif masih dapat mengalokasikan porsi pada saham growth yang harganya telah terkoreksi, sementara investor konservatif lebih bijak mengandalkan produk pendapatan tetap.

Diversifikasi juga menjadi prinsip penting. Menggabungkan beberapa instrumen sekaligus, misalnya kombinasi SBN, deposito, reksa dana pasar uang, dan saham dividen, dapat menyeimbangkan risiko dan imbal hasil ketika arah kebijakan moneter belum pasti.

Dengan disiplin menyusun strategi dan memahami karakter tiap instrumen, era suku bunga tinggi bukan semata momen membebani, melainkan dapat menjadi peluang untuk membangun fondasi keuangan yang lebih kokoh. (asn)

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Andi Prasetyo

Kontributor bidang kebugaran dan olahraga. Menulis tips workout dan gaya hidup aktif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam
IKLAN SIDEBAR — SLOT AKTIF ✅
300x250 / responsif

Newsletter