26, 2026
Teknologi

Energi Murah tidak Cukup, Indonesia Membutuhkan Energi yang Produktif

Indonesia perlu mengubah paradigma energi dari sekadar murah menjadi produktif. Energi harus mendukung teknologi, industri, dan kesejahteraan masyarakat.]]>

Lestari Purnama
Lestari Purnama Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Energi Murah tidak Cukup, Indonesia Membutuhkan Energi yang Produktif

Energi Murah tidak Cukup, Indonesia Membutuhkan Energi yang Produktif

Indonesia menghadapi dilema serius dalam pengelolaan energi listrik. Meskipun negara ini berhasil memastikan akses listrik hingga ke pelosok desa dengan tarif yang relatif terjangkau, kenyataannya menunjukkan bahwa energi murah saja tidak menjamin pembangunan ekonomi yang berkelanjutan. Ahli energi menekankan bahwa yang dibutuhkan bukan hanya energi dengan harga murah, melainkan energi yang produktif dan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi secara signifikan.

Menurut data terbaru dari Kementerian ESDM, tingkat elektrifikasi di Indonesia telah mencapai 98,3 persen pada akhir tahun 2023. Angka ini menunjukkan kemajuan pesat dalam akses listrik dibandingkan dengan dua dekade lalu ketika hanya sekitar 60 persen populasi yang memiliki akses listrik. Namun, belakangan ini mulai muncul pertanyaan kritis: apakah akses listrik dengan tarif murah benar-benar telah meningkatkan kesejahteraan masyarakat di daerah-daerah terpencil?

Kenyataan di Lapangan

Studi yang dilakukan oleh Lembaga Penelitian Energi dan Lingkungan (LPES) mengungkapkan bahwa di banyak daerah pedalaman, meskipun listrik sudah tersedia, tingkat penggunaannya masih sangat rendah. Banyak rumah tangga hanya menggunakan listrik untuk lampu sederhana dan pengisi ponsel, sementara alat listrik lainnya seperti kompor listrik, kulkas, atau mesin cuci masih menjadi barang langka.

"Energi murah tanpa pendampingan dan edukasi akan sia-sia," ujar Dr. Ahmad Fachry, Kepala LPES dalam sebuah seminar tentang transformasi energi di Jakarta. "Kita perlu memastikan bahwa energi yang tersedia benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan produktivitas ekonomi masyarakat, bukan sekadar sebagai simbol kemajuan teknologi."

Transformasi Energi Menuju Produktivitas

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah mulai mengarahkan kebijakan energi dari sekadar memastikan ketersediaan dan harga murah, menuju energi yang produktif. Program-program seperti "Listrik Desa Produktif" mulai diimplementasikan dengan memberikan subsidi khusus bagi usaha-usaha kecil dan menengah di pedesaan untuk menggunakan alat-alat listrik produktif.

Di Kabupaten Toraja Utara, Sulawesi Selatan, program ini telah membuka peluang baru bagi para petani kakao. Dengan adanya listrik yang stabil dan terjangkau, para petani dapat menggunakan mesin pengolah kakao untuk meningkatkan nilai jual produk mereka. Sebelumnya, kakao hanya dijual sebagai biji mentah, kini dapat diolah menjadi coklat kualitas tinggi yang memiliki nilai jual jauh lebih tinggi.

"Dulu kami hanya bisa menjual kakao seharga Rp15.000 per kilogram. Sekarang dengan mesin pengolahan sendiri, kami bisa membuat coklat dan menjualnya hingga Rp150.000 per kilogram," ujar Bapak Andi, salah seorang petani kakao yang telah mengikuti program ini.

Tantangan Implementasi

Meski penuh harapan, implementasi energi produktif tidak tanpa tantangan. Infrastruktur listrik di beberapa daerah masih rentan terhadap gangguan dan kekurangan daya, terutama saat musim kemarau. Selain itu, rendahnya tingkat literasi teknologi di kalangan masyarakat pedesaan menjadi penghambat dalam pemanfaatan alat-alat listrik produktif.

Pemerintah juga dihadapkan pada masalah biaya. Subsidi energi yang diberikan untuk menjamin tarif murah mengakibatkan beban fiskal yang semakin berat. Menurut Dr. Siti Nurhaliza, ekonom dari Universitas Indonesia, subsidi energi sebesar Rp400 triliun per tahun dapat dialihkan untuk membiayai program pendampingan dan pelatihan penggunaan energi produktif.

Strategi Jangka Panjang

Untuk memastikan keberlanjutan, strategi jangka panjang perlu dirumuskan. Salah satu pendekatan yang sedang dipertimbangkan adalah pemanfaatan energi terbarukan yang dapat diintegrasikan dengan usaha-usaha produktif lokal. Pembangunan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berskala kecil di desa-desa dapat menjadi solusi yang tidak hanya memenuhi kebutuhan energi, tetapi juga mendukung kegiatan ekonomi lokal.

Di Pulau Sumba, program "Sumba Terang" telah berhasil mengembangkan model integrasi energi terbarukan dengan usaha-usaha pariwisata dan pertanian. Desa-desa yang sebelumnya tidak memiliki akses listrik kini tidak hanya memiliki listrik untuk kebutuhan rumah tangga, tetapi juga untuk pengoperasian homestay, pengolahan hasil pertanian, dan fasilitas publik lainnya.

"Kunci transformasi energi bukan hanya pada teknologi, tetapi pada bagaimana energi tersebut dapat menjadi akselerator pembangunan ekonomi lokal," menurut Menteri ESDM, Arifin Tasrif. "Kita perlu membangun ekosistem di mana energi bukanlah komoditas yang hanya dikonsumsi, tetapi menjadi sumber daya yang membangun."

Dengan demikian, perjalanan Indonesia dalam mengelola energi memasuki babak baru. Dari sekadar fokus pada ketersediaan dan harga, kini perhatian beralih pada bagaimana energi dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan. Energi yang produktif bukanlah pilihan, melainkan kebutuhan mutlak untuk mencapai Indonesia yang maju dan sejahtera.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Purnama

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter