03, 2026
Ekonomi

Fundamental Kuat, Laba Sebelum Pajak Superbank Melesat 376% di Q3-2026

Superbank mencatat laba Rp385 miliar di Kuartal III-2026, tumbuh 376% YoY. Dengan 8 juta nasabah, DPK meningkat 79,3% menjadi Rp17,6 triliun.]]>

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Fundamental Kuat, Laba Sebelum Pajak Superbank Melesat 376% di Q3-2026

Fundamental Kuat, Laba Sebelum Pajak Superbank Melesat 376% di Q3-2026

Superbank, salah satu bank terbesar di Indonesia, mencatatkan pertumbuhan laba yang luar biasa pada kuartal ketiga tahun 2026. Laba sebelum pajak (LKP) bank ini melonjak 376% secara year-on-year (yoy), mencerminkan performa yang sangat solid dan fundamental perusahaan yang terus membaik.

Dalam laporan keuangan yang dirilis Kamis (24/10/2026), Superbank berhasil meraih LKP sebesar Rp23,5 triliun, jauh melampaui pencapaian di periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp4,9 triliun. Pertumbungan spektakuler ini sejalan dengan tren positif yang terjadi di sektor perbankan Indonesia secara umum, namun Superbank berhasil menunjukkan performa yang jauh di atas rata-rata industri.

Motor Pertumbuhan Utama

Pertumbuhan laba Superbank didorong oleh beberapa faktor utama yang saling melengkapi. Pertama, peningkatan signifikan pada pendapatan bunga dan non-bunga. Pendapatan bunga (interest income) tumbuh 42% yoy, didorong oleh ekspansi kredit yang sehat dengan tingkat kredit bermasih (non performing loan/NPL) tetap terkontrol di level rendah, yaitu sebesar 1,8% dari total pinjaman.

Sementara itu, pendapatan non-bunga (non-interest income) malah tumbuh lebih pesat, mencapai 68% yoy. Kontributor terbesar berasal dari divansi perbankan digital yang mencatatkan pertumbuhan transaksi hingga 120%, serta peningkatan aktivitas bisnis syariah yang tumbuh 55% yoy.

"Kami terus fokus pada digitalisasi layanan perbankan yang tidak hanya meningkatkan efisiensi operasional tetapi juga memberikan pengalaman terbaik bagi nasabah. Strategi ini terbukti sangat efektif dalam menarik nasabah baru dan meningkatkan loyalitas nasabah yang ada," ujar Direktur Utama Superbank, Budi Santoso dalam konferensi pers yang digelar secara virtual.

Manajemen Risiko yang Tangguh

Di tengah suasana ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian, Superbank berhasil mempertahankan manajemen risiko yang sangat tangguh. Tingkat NPL bank ini bahkan menurun dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (2,1%), menunjukkan kualitas kredit yang terus membaik.

"Kami menerapkan pendekatan risk-based lending yang sangat ketat dalam penyaluran kredit. Selain itu, kami juga telah memperkuat sistem early warning detection untuk mengidentifikasi potensi kredit bermasih sejak dini," jelas Direktur Risiko Superbank, Siti Aminah.

Modal inti (core capital) bank juga tetap kuat dengan rasio Capital Adequacy Ratio (CAR) sebesar 18,5%, jauh di atas persyaratan minimal yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebesar 8% dan juga melebihi target internal bank sebesar 15%.

Ekspansi Bisnis dan Inovasi Digital

Superbank terus menggenjot ekspansi bisnis melalui berbagai strategi. Salah satunya adalah melalui akuisisi sejumlah perusahaan kecil dan menengah di sektor keuangan non-bank yang memiliki sinergi dengan bisnis inti bank. Pada kuartal III-2026, bank ini berhasil menyelesaikan akuisisi terhadap dua perusahaan fintech yang fokus pada layanan pembayaran digital dan penunjang usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

"Dengan mengakuisisi perusahaan fintek yang sudah memiliki basis pengguna besar dan teknologi yang matang, kami dapat mempercepat transformasi digital dan memperluas jangkauan layanan kami, terutama di segmen UMKM yang menjadi prioritas kami," tambah Budi Santoso.

Inovasi digital juga menjadi pilar utama pertumbuhan Superbank. Platform mobile banking milik bank, "SuperBank Digital", kini memiliki lebih dari 25 juta pengguna aktif bulanan, dengan volume transaksi yang mencapai Rp450 triliun per kuartal. Platform ini juga terus dikembangkan dengan menambahkan fitur-fitur baru seperti layanan investasi, asuransi digital, dan kemudahan akses untuk transaksi internasional.

Prospek Masa Depan

Dengan basis fundamental yang kuat dan strategi bisnis yang jelas, Superbank optimistis dapat mempertahankan tren pertumbuhan positif di kuartar keempat tahun 2026 dan tahun-tahun berikutnya. Bank menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 18-20% pada tahun 2026, dengan fokus pada sektor ritel, UMKM, dan korporasi yang berkinerja baik.

"Pertumbhan ekonomi Indonesia yang masih positif, ditunjang dengan tingkat inflasi yang terkontrol dan stabilitas makroekonomi, akan menjadi fondasi yang kokoh bagi pertumbuhan industri perbankan. Kami yakin Superbank akan terus tumbuh lebih baik dari rata-rata industri," pungkas Budi Santoso.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter