Gunung Anak Krakatau Melakukan Tujuh Kali Erupsi dalam Satu Malam
Gunung Anak Krakatau kembali menunjukkan aktivitas vulkaniknya yang intens dengan melakukan tujuh kali erupsi dalam satu malam. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Banten mencatat aktivitas gunung berapi ini terjadi pada Selasa (12/3) malam hingga Rabu (13/3) dini hari.
Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Gempa Bumi (PVMBG) Hanum mengatakan bahwa erupsi terjadi secara berturut-turut dengan durasi yang berbeda-beda. "Erupsi pertama terjadi pukul 21.15 WIB dengan durasi 46 detik, diikuti enam kali erupsi berikutnya hingga pukul 01.45 WIB," ujar Hanum dalam rilis resminya.
Ketinggian Kolom Abu dan Arah Angin
Menurut data yang dikumpulkan PVMBG, ketinggian kolom abu dari setiap erupsi bervariasi antara 200 hingga 800 meter di atas puncak gunung. Puncak Gunung Anak Krakatau sendiri berada pada ketinggian 338 meter di atas permukaan laut.
Arah angin saat erupsi terjadi ke arah barat daya sehingga potensi abu vulkanik dapat menyebar ke wilayah Pulau Sumatera khususnya daerah Lampung dan sekitarnya. BPBD telah meminta masyarakat di sekitar gunung untuk tetap waspada dan mengenakan masker saat aktivitas luar ruangan.
Status Level Siaga II Tetap Ditetapkan
Meski mengalami serangkaian erupsi, PVMBG mempertahankan status Gunung Anak Krakatau pada Level Siaga II (Waspada). Status ini telah diberlakukan sejak Juni 2018 setelah letusan besar terjadi pada 2018 yang mengakibatkan tsunami di Selat Sunda.
Dampak bagi Penerbangan dan Pariwisata
Activitas vulkanik Gunung Anak Krakatau telah berdampak pada penerbangan di wilayah tersebut. Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Perhubungan Udara Wilayah I Jakarta menyatakan bahwa arus penerbangan di sekitar wilayah Selat Sunda telah dibatasi.
Sementara itu, sektor pariwisata di kawak Selat Sunda juga mengalami dampak. Beberapa operator wisata bahari telah menghentikan sementara paket wisata ke kawasan Pulau Anak Krakatau. "Keamanan wisatawan adalah prioritas utama kami. Karena itu, sementara waktu kami batasi aktivitas wisata ke kawasan tersebut," kata Ketua Asosiasi Pariwisata Bahari Banten.
Monitoring Terus Dilakukan
Tim vulkanologi PVMBG terus melakukan monitoring intensif terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau. Mereka menggunakan berbagai instrumen pemantauan seperti seismograf, GPS, dan kamera pengamat untuk melacak perkembangan aktivitas gunung.
Pemerintah Daerah setempat bersama dengan BPBD dan PVMBG telah membentuk posko penanggulangan bencana di wilayah terdekat gunung. Posko ini akan berfungsi sebagai pusat koordinasi jika terjadi peningkatan aktivitas gunung yang berpotensi membahayakan.
Masyarakat di sekitar Gunung Anak Krakatau diminta untuk tetap tenang dan mengikuti anjuran pihak berwenang. Informasi terkait perkembangan aktivitas gunung akan terus diperbarui melalui media resmi PVMBG dan pemerintah daerah.
Komentar (0)