31, 2026
Nasional

Hasto Tantang GMNI Wujudkan Praksis Marhaenisme Guna Membela Rakyat Tertindas

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/10/31/6ae598a16f0b9-sekjen-pdip-hasto-kristiyanto_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Rizki Setiawan
Rizki Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Hasto Tantang GMNI Wujudkan Praksis Marhaenisme Guna Membela Rakyat Tertindas

Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) Hasto Kristiyanto mengajak Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) untuk merealisasikan praksis Marhaenisme dalam membela rakyat tertindas. Hal ini disampaikan Hasto dalam sebuah kegiatan yang diselenggarakan GMNI beberapa waktu lalu. Menurutnya, Marhaenisme bukan hanya sekadar ideologi, melainkan panduan aksi nyata untuk melindungi kaum miskin dan tertindas di tengah arus globalisasi yang semakin kompleks.

Dalam orasinya, Hasto menekankan bahwa GMNI sebagai organisasi kepemudaan tertua di Indonesia memiliki perstorikan penting dalam perjuangan kemerdekaan. "GMNI lahir dari penderitaan rakyat Indonesia, lahir dari perjuangan melawan penjajahan. Itu adalah darah marhaen yang mengalih dalam urat nadi organisasi ini," ujar Hasto dengan tegas.

Hasto menjelaskan bahwa Marhaenisme yang dikembangkan oleh Bung Karno memiliki esensi keadilan sosial dan kemandirian. Dalam konten modern, esensi tersebut harus diwujudkan dalam berbagai aksi konkret. "Kita tidak bisa hanya berbicara tentang Marhaenisme, tapi harus menunjukkannya dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimana kita memperjuangkan hak buruh, bagaimana kita melindungi petani, bagaimana kita memastikan setiap warga Indonesia mendapatkan pendidikan yang layak," tegasnya.

Kritikan terhadap Kebijakan Ekonomi Neoliberal

Dalam kesempatan tersebut, Hasto juga mengkritik kebijakan ekonomi neoliberal yang menurutnya semakin mengabaikan kepentingan rakyat banyak. Ia menyebutkan bahwa kebijakan yang berorientasi pada pasar bebas cenderung mengorbankan kelompok rentan demi keuntungan segelintera pihak.

"Ekonomi neoliberal menciptakan ketimpangan yang semakin parah. Di satu sisi, kita melihat miliarder bertambah kaya, di sisi lain, rakyat kecil semakin kesulitan mencari nafkah harian. GMNI harus menjadi suara rakyat yang tertindas di tengah situasi ini," papar Hasto.

Ia mencontohkan beberapa isu yang menjadi perhatian GMNI, seperti penolakan terhadap Omnibus Law Cipta Kerja yang menurutnya mengesampingkan hak buruh, serta dukungan terhadap petani yang terancam oleh kebijakan impor produk pertanian yang merugikan petani lokal.

Peran GMNI dalam Menghadapi Tantangan Global

Hasto juga menyoroti tantangan global yang semakin kompleks, mulai dari krisis ekonomi hingga ancaman geopolitik. Menurutnya, GMNI harus siap menghadapi berbagai tantangan ini dengan memperkuat pemahaman terhadap Marhaenisme.

p>"Dunia semakin tidak pasti, konflik semakin kompleks, ketimpangan semakin meluas. Di tengah situasi ini, GMNI harus menjadi penjaga kebenaran dan keadilan. Kita harus membangun solidaritas antar bangsa, antar rakyat, untuk melawan segala bentuk penindasan dan eksploitasi," tegas Hasto.

Ia menambahkan bahwa generasi muda kini memiliki peran strategis dalam membawa perubahan. Dengan memahami Marhaenisme, generasi muda dapat menjadi agen perubahan yang mampu menciptakan Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.

Aksi Konkret untuk Mewujudkan Marhaenisme

Dalam orasinya, Hasto juga memberikan panduan konkret bagi GMNI dalam mewujudkan praksis Marhaenisme. Pertama, dengan melakukan pendekatan langsung ke masyarakat, memahami masalah yang dihadapi, dan bersama-sama mencari solusi.

Kedua, dengan melakukan advokasi kebijakan yang pro-rakyat, menolak segala bentuk kebijakan yang merugikan kelompok rentan. Ketiga, dengan membangun gerakan solidaritas antar organisasi pemuda dan organisasi rakyat untuk memperkuat perjuangan.

"Marhaenisme adalah ideologi perjuangan. Itu bukan ideologi pasrah, tapi ideologi melawan segala bentuk ketidakadilan. GMNI harus menjadi pelopor dalam mewujudkan Indonesia yang sesungguhnya Indonesia, Indonesia untuk rakyat, bukan untuk kepentingan tertentu," pungkas Hasto.

Akhirnya, Hasto meminta seluruh anggota GMNI untuk menjaga dan mengembarkan semangat Marhaenisme sebagai warisan bangsa. "Bung Karno sudah menyerahkan amanah ini kepada kita. Mari kita wujudkan Indonesia yang adil dan sejahtera bersama-sama," tutupnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizki Setiawan

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter