01, 2026
Ekonomi

Kala Batu Akik Tak Lagi Kemilau

Tren batu akik yang booming antara 2014-2017 kini meredup. Pedagang mengeluh sepinya pembeli, harga jual anjlok, dan banyak yang menjual kembali.]]>

Galih Nasution
Galih Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kala Batu Akik Tak Lagi Kemilau

Kala Batu Akik Tak Lagi Kemilau

Dulu, batu akik adalah simbol kekayaan dan status sosial di tengah masyarakat. Batu-batu berwarna-warni dengan motif unik menjadi incaran banyak orang, baik untuk koleksi pribadi maupun investasi jangka panjang. Namun, kini gemerlap batu akik perlahan mulai pudar seiring perubahan tren dan dinamika pasar yang tak terduga.

Perubain Minat Masyarakat

Masyarakat yang dulu berbondong-bondong mencari batu akik kini tampaknya beralih minat ke berbagai bentuk investasi lainnya. Batu mulia yang dulu dianggap sebagai aset berharga kini mulai kehilangan daya tariknya di mata sebagian kalangan. Fenomena ini terjadi meskipun batu akik secara intrinsik tetap memiliki nilai seni dan keunikan tersendiri.

"Sekarang minat untuk batu akik sudah tidak sebesar dulu," ujar Ahmad, seorang pedagang batu akik berpengalaman di Pasar Tanah Abang, Jakarta. "Dulu calon pembeli bisa datar sepanjang hari, tapi sekarang sudah jarang. Bahkan kalau ada, biasanya hanya sekadar bertanya saja," tambahnya sambil menatap rak batu akik yang sepi pembeli.

Faktor Penurunan Minat

Ada beberapa faktor yang menyebabkan penurunan minat terhadap batu akik. Pertama, masyarakat kini lebih tertarik pada investasi yang lebih likuid dan mudah dijual kembali seperti emas, properti, atau instrumen finansial lainnya. Batu akik yang nilainya bersifat subjektivitas membutuhkan pengetahuan khusus untuk menilai kualitasnya, sehingga dianggap kurang praktis bagi sebagian investor.

Kedua, maraknyanya produk tiruan dan batu palsu di pasaran membuat masyarakat menjadi lebih waspada. Banyak batu akik yang dipalsukan menggunakan pewarna dan bahan kimia untuk meniru tampilan batu asli. Hal ini membuat calon pembeli menjadi ragu dan cenderung menghindari risiko membeli batu palsu.

Ketiga, pergeseran tren fashion dan gaya hidup juga turut memengaruhi. Generasi milenial dan Gen Z kini lebih menyukai aksesori minimalis dan modern yang seringkali lebih murah dan mudah ditemukan. Batu akik yang biasanya memiliki bentuk dan ukuran besar dianggap kurang sesuai dengan tren fashion saat ini.

Dampak pada Industri Batu Akik

Penurunan minat ini tentu berdampak signifikan bagi para pelaku usaha batu akik. Banyak toko batu akik yang harus menutup usahanya karena tidak mampu bersaing. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Yogyakarta, sejumlah pusat perbelanjaan batu akik mengalami penurunan pengunjung yang drastis.

"Dulu toko ini ramai dikunjungi kolektor dan pecinta batu akik, tapi sekarang sudah sepi," kata Budi, pemilik toko batu akik di kawah Candiroto, Temanggung, Jawa Tengah yang dikenal sebagai sentra pengrajin batu akik. "Kita terpaksa harus mengurasi stok dan memfokuskan pada pasar ekspor saja," tambahnya.

Di sisi lain, ada juga para pengrajin batu akik yang beralih profesi atau mencari mata pencaharian lain. Industri pengolahan batu akik yang dulu menyerap banyak tenaga kerja kini menyusut, meninggalkan tantangan ekonomi bagi masyarakat yang bergantung pada usaha ini.

Harapan untuk Revitalisasi

Meskipun mengalami penurunan minat, batu akik tetap memiliki potensi untuk dikembangkan ulai. Beberapa pelaku usaha mencoba melakukan inovasi dengan mengkombinasikan batu akik dengan desain modern atau memasarkannya dalam bentuk perhiasan yang lebih elegan. Selain itu, edukasi tentang nilai sejarah dan spiritual batu akik juga perlu ditingkatkan untuk membangkitkan kembali minat masyarakat.

"Batu akik bukan sekadar batu biasa, tapi warisan budaya dan alam yang perlu dilestarikan," ujar Dr. Siti, seorang geolog dari Universitas Indonesia. "Dengan edukasi yang tepat, masyarakat akan mengerti nilai sejati batu akik bukan hanya dari harganya, tapi juga dari keunikan dan sejarahnya," tambahnya.

Menghadapi tantangan ini, para pelaku usaha batu akik perlu beradaptasi dengan cepat. Dengan memahami tren pasar, meningkatkan kualitas produk, dan melakukan strategi pemasaran yang tepat, batu akik masih memiliki harapan untuk kembali bersinar di tengah persaingan investasi yang semakin kompetitif.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Nasution

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter