Kepala BMKG Sebut Titik Karhutla di Sumsel dan Kalteng Tinggi, OMC Dimasifkan
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Dwikorita Karnawati menyatakan bahwa titik kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) dan Kalimantan Tengah (Kalteng) berada pada tingkatan yang cukup tinggi. Menurutnya, kondisi ini telah memicu penurunan kualitas udara yang signifikan di wilayah tersebut.
Dalam keterangannya, Dwikorita mengungkapkan bahwa BMKG telah melakukan monitoring intensif terhadap perkembangan karhutla di beberapa wilayah di Indonesia. "Kita melihat bahwa di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah, titik karhutla cukup banyak dan intensitasnya tinggi," ujarnya pada konferensi pers yang diselenggarakan secara virtual.
Situasi Karhutla di Sumsel dan Kalteng
Menurut data yang dikeluarkan BMKG, Provinsi Sumatera Selatan saat ini sedang menghadapi tantangan serius terkait kebakaran hutan dan lahan. Sejumlah kabupaten di provinsi ini, seperti Ogan Komering Ilir (OKI), Muara Enim, dan Lahat, dilaporkan memiliki titik-titik panas yang cukup signifikan.
"Di Sumsel, kita melihat adanya peningkatan titik api yang disertai dengan kondisi cuaca yang relatif kering dan curah hujan yang rendah. Ini tentu memperparah risiko kebakaran hutan dan lahan," jelas Dwikorita.
Sementara itu, di Kalimantan Tengah, wilayah seperti Kabupaten Kotawaringin Barat, Pulang Pisau, dan Katingan juga dilaporkan memiliki kondisi serupa. BMKG mencatat bahwa kebakaran hutan dan lahan di wilayah ini telah menyebabkan kabut asap yang menyelimuti sejumlah daerah.
Upaya Pemerintah Melalui OMC
Menanggapi kondisi tersebut, pemerintah telah mengambil langkah cepat dengan melakukan penurunan cuaca buatan (weather modification) secara masif. Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) telah dilakukan di kedua provinsi tersebut guna menurunkan curah hujan secara lokal.
"Kita sudah melakukan OMC di Sumsel dan Kalteng. Pesawat sudah diluncurkan untuk melakukan sebaran silver iodide atau zat kimia lainnya yang dapat memicu hujan," jelas Dwikorita.
Dirinya menjelaskan bahwa OMC dilakukan dengan memanfaatkan kondisi atmosfer yang ada. "Kita lihat ada awan yang potensial untuk dihujani, maka kita masukkan partikel-partikel tertentu agar proses pembentukan tetesan hujan terjadi lebih cepat," tambahnya.
Dampak Terhadap Kualitas Udara
Kehadiran karhutla di kedua provinsi tersebut telah berdampak signifikan terhadap kualitas udara. Data dari Stasiun Pemantau Kualitas Udara BMKG menunjukkan bahwa Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di sejumlah titik telah mencapai kategori tidak sehat.
"Di beberapa lokasi di Sumsel dan Kalteng, ISPU-nya sudah masuk kategori tidak sehat, bahkan di beberapa titik bisa mencapai sangat tidak sehat. Ini tentu berisiko bagi kesehatan masyarakat terutama mereka yang memiliki gangguan pernafasan," kata Dwikorita.
BMKG sendiri telah mengimbau masyarakat untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan terutama bagi mereka yang tinggal di dekat titik-titik panas atau mengalami kondisi kabut asap.
Langkah Pencegahan dan Penanganan
Selain melakukan OMC, pemerintah juga telah memperbanyak personel untuk melakukan penanganan langsung terhadap titik-titik api. Tim penanggulangan kebakaran dari instansi terkait seperti Basarnas dan TNI/Polri telah diterjunkan ke lokasi.
"Kita juga melakukan koordinasi dengan pemerintah daerah setempat untuk memastikan penanganan karhutla berjalan maksimal. Upaya pencegahan juga dilakukan dengan melakukan sosialisasi kepada masyarakat tentang bahaya terjadinya kebakaran hutan dan lahan," ujar Dwikorita.
Dirinya menambahkan bahwa pemerintah juga sedang mempersiapkan langkah-langkah antisipatif menghadapi musim kemarau yang diperkirakan akan berlangsung hingga Oktober mendatang. "Kita berharap dengan berbagai upaya yang dilakukan, kejadian karhutla dapat dikendalikan dan dampaknya dapat diminimalisir," pungkasnya.
Komentar (0)