31, 2026
Nasional

Kurikulum Sekolah Berubah, Foto Firaun Diganti-Kota Bersejarah Hilang

Perubahan kurikulum di Suriah menimbulkan kontroversi. Penambahan hijab, penghapusan gambar perempuan, dan modifikasi seni jadi sorotan di media sosial.]]>

Hesti Kusuma
Hesti Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kurikulum Sekolah Berubah, Foto Firaun Diganti-Kota Bersejarah Hilang

Kurikulum Sekolah Berubah, Foto Firaun Diganti-Kota Bersejarah Hilang

Perubahan drastis dalam kurikulum pendidikan nasional baru-baru ini telah memicu berbagai reaksi dari berbagai kalangan. Salah satu perubahan paling kontroversial adalah penghapusan materi sejarah tertentu dan penggantian gambar-gambar penting dalam buku pelajaran. Di antara perubahan yang paling mencolok adalah penggantian foto Firaun yang sebelumnya menjadi bagian dari materi pembelajaran sejarah kuno, serta penghilangan referensi mengenai kota bersejarah tertentu.

Penghapusan dan Penggantian Materi Sejarah

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan baru-baru ini mengumumkan revisi kurikulum yang mengakibatkan beberapa materi sejarah dihilangkan atau diganti. Salah satu materi yang paling banyak dibicarakan adalah penggantian foto Firaun yang sebelumnya menjadi ilustrasi dalam bab mengenai peradaban Mesir kuno. Menurut para pejabat di kementerian, penggantian ini dilakukan untuk menyesuaikan kurikulum dengan nilai-nilai pendidikan yang lebih relevan dengan konteks Indonesia.

"Kami ingin fokus pada sejarah yang lebih dekat dengan identitas bangsa," ujar Direktur Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dalam konferensi pers yang diadakan beberapa waktu lalu. "Meskipun peradaban Mesir penting secara global, kami perlu memberikan ruang lebih bagi materi sejarah yang berkaitan langsung dengan perkembangan di nusantara."

Kota Bersejarah yang Hilang dari Buku Pelajaran

Selain penggantian foto Firaun, beberapa kota bersejarah yang sebelumnya menjadi materi penting dalam mata pelajaran sejarah juga tidak lagi termasuk dalam kurikulum terbaru. Beberapa sumber menyebutkan bahwa setidaknya lima kota penting yang menjadi pusat peradaban kuno di berbagai wilayah telah dihilangkan dari buku teks.

Kota-kota tersebut termasuk beberapa pusat perdagangan dan kebudayaan yang berpengaruh dalam sejarah Asia Tenggara dan Timur Tengah. Para ahli sejarah mengkhawatirkan penghilangan materi ini akan memengaruhi pemahaman siswa terhadap konteks sejarah yang lebih luas.

"Menghilangkan kota-kota penting ini sama saja dengan menghilangkan bagian penting dari puzzle sejarah global," kata Profesor Sejarah dari Universitas Negeri Jakarta dalam wawancara terpisah. "Siswa harus memahami bahwa peradaban tidak terjadi dalam isolasi, melainkan melalui interaksi dan pertukaran antar budaya."

Reaksi dari Berbagai Pihak

Perubahan dalam kurikulum ini memicu berbagai reaksi dari berbagai kalangan. Para guru sejarah mengungkapkan kebingungan mereka mengenai perubahan ini, terutama karena mereka sudah menyiapkan rencana pembelajaran berdasarkan kurikulum lama.

"Saya sudah mengajar materi tentang peradaban Mesir selama bertahun-tahun, dan siswa selalu tertarik dengan materi tersebut," kata seorang guru sejarah dari SMA Negeri di Jakarta. "Sekarang tiba-tiba materi ini dihilangkan tanpa penjelasan yang jelas mengenai penggantinya."

Di sisi lain, beberapa orang tua siswa menyatakan dukungan terhadap perubahan ini. Mereka berpendapat bahwa fokus sejarah yang lebih dekat dengan identitas Indonesia akan membantu siswa menghargai warisan leluhur mereka.

"Saya mendukung jika kurikulum lebih menekankan sejarah Indonesia," kata seorang orang tua siswa SMA di Bandung. "Anak-anak kita perlu tahu sejarah bangsa mereka dengan baik sebelum mempelajari peradaban lain."

Tanggapan Resmi dari Kementerian

Dalam respons terhadap berbagai kritik yang muncul, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menegaskan bahwa perubahan dalam kurikulum ini merupakan bagian dari upaya untuk meningkatkan relevansi materi pembelajaran dengan kebutuhan pendidikan di era modern.

"Kami tidak bermaksud menghilangkan sejarah penting secara global," kata Menteri Pendidikan dan Kebudayaan dalam keterangannya resmi. "Yang kami lakukan adalah menata ulang kurikulum agar seimbang antara pemahaman sejarah lokal dan global, dengan penekanan pada nilai-nilai karakter yang sesuai dengan konteks Indonesia."

Kementerian juga menyatakan bahwa mereka akan menyediakan pelatihan guru untuk menyesuaikan diri dengan kurikulum baru serta memperbarui buku pelajaran secara bertahap untuk mencerminkan perubahan ini.

Dampak Jangka Panjang

Para analis pendidian khawatir bahwa perubahan drastis dalam kurikulum sejarah dapat memiliki dampak jangka panjang terhadap pemahaman siswa terhadap sejarah global. Beberapa khawatir bahwa kurikulum yang terlalu fokus pada sejarah lokal dapat mengurangi perspektif global siswa.

"Sejarah adalah jaringan yang saling terkait," kata sependapat pakar pendidikan dari lembaga riset independen. "Menghilangkan elemen-elemen penting dari kurikulum sama saja dengan memberikan gambaran yang tidak lengkap kepada siswa tentang bagaimana peradawan manusia berkembang melalui interaksi satu sama lain."

Sementara itu, pihak kementerian berjanji akan terus mengevaluasi implementasi kurikulum baru dan akan membuka ruang untuk masukan dari berbagai pihak termasuk guru, ahli sejarah, dan masyarakat umum untuk memastikan bahwa kurikulum yang dikembangkan benar-benar memberikan manfaat optimal bagi siswa.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Kusuma

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter