Menteri Wihaji: Perbaiki Negara Dimulai dari Keluarga
Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Wihaji, menegaskan bahwa perbaikan kondisi negara harus dimulai dari tingkat paling dasar, yaitu keluarga. Menurutnya, keluarga merupakan fondasi utama dalam membangun karakter bangsa yang berkualitas dan beretika. Pernyataan ini disampaikan dalam sebuah acara yang dihadirkan oleh berbagai kalangan masyarakat, termasuk tokoh agama, pemimpin adat, dan organisasi kemasyarakatan.
Dalam pidatonya, Wihaji menjelaskan bahwa keluarga adalah lingkungan pertama yang membentuk kepribadian dan nilai-nilai seorang individu. "Setiap anak yang lahir dan tumbuh dalam keluarga yang harmonis, penuh kasih sayang, dan dididik dengan baik akan menjadi warga negara yang bertanggung jawab," ujarnya. Ia menambahkan bahwa prinsip ini menjadi landasan utama dalam upaya pembangunan bangsa yang berkelanjutan.
Peran Orang Tua sebagai Pendidikan Karakter Pertama
Wihaji menyoroti pentingnya peran orang tua dalam mendidikan karakter anak sejak usia dini. Menurutnya, pendidikan karakter tidak hanya bisa dilakukan di sekolah, tetapi dimulai dari lingkungan terdekat yaitu keluarga. "Orang tua adalah guru pertama dan terpenting bagi setiap anak. Nilai-nilai yang ditanamkan di rumah akan menjadi landasan utama dalam kehidupan anak di kemudian hari," jelasnya.
Ia mengungkapkan bahwa berbagai masalah yang dihadapi bangsa saat ini, seperti korupsi, ketimpangan sosial, dan kekerasan, sebenarnya bisa dicegah jika pembentukan karakter dimulai dari keluarga. "Jika setiap keluarga mampu mendidik anak dengan baik, maka kita akan memiliki generasi yang mampu menjadi pilar bangsa yang kuat," tambahnya.
Program Penguatan Keluarga
Dalam upaya mewujudkan visi tersebut, Kementerian Koordinator PMK meluncurkan berbagai program penguatan keluarga. Salah satunya adalah Program Keluarga Sehat dan Berdaya yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui peningkatan kualitas keluarga. Program ini mencakup upaya peningkatan kesehatan reproduksi, pemberdayaan ekonomi keluarga, serta pendidikan karakter bagi anak dan remaja.
"Kami bekerja sama dengan pemerintah daerah, organisasi kemasyarakatan, dan lembaga swasta untuk mensukseskan program ini. Tujuannya adalah untuk menciptakan ekosistem keluarga yang sehat, sejahtera, dan berdaya," jelas Wihaji. Ia menambahkan bahwa program ini akan diimplementasikan di seluruh Indonesia dengan pendekatan yang adaptif terhadap kondisi lokal dan kebutuhan masyarakat.
Kolaborasi Multi Pihak
Untuk mencapai tujuan tersebut, Wihaji menekankan pentingnya kolaborasi antar pihak. Pemerintah, lanjutnya, tidak bisa bekerja sendiri dalam membangun keluarga yang kuat. Diperlukan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat, termasuk tokoh agama, pemimpin adat, tokoh pemuda, dan organisasi profesi.
"Kita perlu menciptakan sinergi yang kuat antara pemerintah dengan masyarakat. Setiap pihak memiliki peranan yang penting dalam membangun fondasi bangsa yang kuat. Tokoh agama dapat memberikan pemahaman agama yang benar, pemimpin adat dapat menegaskan nilai-nilai budaya yang positif, dan organisasi pemuda dapat menjadi agen perubahan bagi generasi muda," tuturnya.
Tantangan dan Solusi
Menghadapi tantangan globalisasi dan perkembangan teknologi, Wihaji mengakui bahwa keluarga modern menghadapi berbagai tantangan baru. "Era digital membawa dampak positif dan negatif bagi keluarga. Di satu sisi, teknologi memudahkan komunikasi dan akses informasi. Di sisi lain, ada risi disintegrasi nilai-nilai kekeluargaan dan paparan konten yang tidak sesuai dengan nilai-nilai budaya kita," jelasnya.
Untuk mengatasi hal ini, pemerintah akan meningkatkan literasi digital bagi orang tua dan remaja. "Kami akan bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika serta Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan untuk memberikan edukasi tentang dampak positif dan negatif teknologi digital, serta cara menggunakannya secara bijak," tambahnya.
Visi Masa Depan
Dengan membangun fondasi keluarga yang kuat, Wihaji berharap Indonesia dapat menjadi bangsa yang unggul tidak hanya dalam sumber daya alam, tetapi juga dalam sumber daya manusia. "Visi kita adalah Indonesia yang berdaulat, berkepribadian, dan berkeadilan sosial. Visi ini hanya bisa terwujud jika kita membangun dari dasar yang kuat, yaitu keluarga yang sehat, berkarakter, dan berdaya," pungkasnya.
Komentar (0)