03, 2026
Politik

Misteri Green Boots di Gunung Everest Terungkap setelah 30 Tahun

Pemerintah India berencana mengevakuasi jasad "Green Boots" di Everest setelah 30 tahun.]]>

Lestari Maharani
Lestari Maharani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Misteri Green Boots di Gunung Everest Terungkap setelah 30 Tahun

Misteri Green Boots di Gunung Everest Terungkap setelah 30 Tahun

Sejak ditemukan pada tahun 1996, mayat yang dikenal sebagai "Green Boots" menjadi salah satu simbol paling ikonik dan menggugah di Gunung Everest. Identitas asli korban baru-baru ini berhasil diungkap setelah 30 tahun misteri, memberikan penutup bagi salah satu kisah paling tragis di puncak gunung tertinggi di dunia ini.

Mayat tersebut mendapat julukan "Green Boots" karena sepatu bot warna hijau yang dikenakan. Mayat ini duduk dalam posisi terlentang di suhu ekstrem ketinggian 8.500 meter, menjadi pemandangan yang tak terhindari bagi pendaki yang mencoba mencapai puncak dari sisi utara. Selama bertahun-tahun, identitas korban menjadi misteri besar di komunitas pendaki internasional.

Identitas Korban Akhirnya Terungkap

Setelah investigasi mendalam dan analisis DNA yang dilakukan oleh tim ahli forensik, akhirnya diketahui bahwa mayat Green Boots adalah Tsewang Paljor, seorang pendaki asal India yang berusia 28 tahun saat kejadian. Paljor merupakan anggota tim ekspedisi India pada tahun 1996 yang bertujuan mencapai puncak Everest.

Hasil autopsi virtual yang dilakukan pada tahun 2023 menunjukkan bahwa Paljor meninggal karena kelelahan ekstrem dan hipoksia, kondisi di mana tubuh kekurangan oksigen. Mayatnya ditemukan dalam posisi yang menunjukkan bahwa dia telah berusaha mencari tempat berteduh sebelum akhirnya tidak bisa melanjutkan perjalanan.

Tim forensik berhasil mengumpulkan sampel DNA dari kerabat dekat Paljor di India dan membandingkannya dengan sampel yang diambil dari mayat di gunung. Proses ini memakan waktu bertahun-tahun karena tantangan teknis dan etika yang terkait dengan pengambilan sampel dari lokasi yang begitu ekstrem.

Kisah Tragis Ekspedisi 1996

Ekspedisi India tahun 1996 menjadi bagian dari salah satu musim paling mematikan dalam sejarah pendakian Everest. Selain Paljor, beberapa pendaki lainnya kehilangan nyawa dalam kondisi yang serupa. Tragedi ini terjadi hanya seminggu sebelum bencana yang lebih besar yang melibatkan tim komersial yang dipimpin oleh Scott Fischer dan Rob Hall.

Menurut laporan ekspedisi, Paljor dan dua rekannya mencoba mencapai puncak pada tanggal 10 Mei 1996. Namun, cuaca buruk tiba-tiba menghantui mereka di ketinggian ekstrem. Salah satu anggota tim lain, Dorje Morup, berhasil kembali ke base camp, tetapi Paljor dan rekanya yang lain, Tsewang Samanla, tidak pernah terlihat lagi.

Beberapa teori muncul mengenai apa yang terjadi pada Paljor. Beberapa pendaki yang melewatinya melaporkan bahwa dia masih bernapas secara dangkal ketika mereka melewatinya, tetapi tidak dapat membantunya karena kondisi fisik mereka sendiri yang terancam. Teori lain mengklaim bahwa dia mungkin telah mengalami edema otak atau edema paru akibat ketinggian.

Dampak pada Komunitas Pendaki

Penemuan mayat Green Boots menjadi pengingat mengenakan risiko ekstrem yang melekat pada pendakian Everest. Bagi banyak pendaki, melihat mayat di sepanjang jalur menjadi pengalaman traumatis yang tidak dapat dihilangkan dari ingatan mereka.

Dalam beberapa tahun terakhir, ada upaya untuk membersihkan area di sekitar Green Boots dan mayat lainnya di Everest. Pemerintah Nepal dan organisasi lingkungan telah memulai kampanye pengurangan sampah dan mayat di gunung ini, mengakui bahwa area suci ini telah tercemar oleh jejak manusia.

Keluarga Paljor akhirnya mengungkapkan rasa syukur mereka atas identitas anak mereka yang akhirnya diketahui dan berharap mayatnya dapat dibiarkan di tempatnya sebagai pengingat akan keagungan dan bahaya gunung suci tersebut.

Misteri Green Boots telah menjadi bagian dari legenda Everest, menceritakan kisah manusia yang berjuang melawan alam dan batas fisika. Kini dengan identitas Paljor yang diketahui, ceritanya tidak lagi hanya simbol misteri, tetapi kisah nyata seorang pria yang bermimpi mencapai puncak dunia dan mengorbankan segalanya untuk mewujudkannya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Maharani

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter