Polisi Geledah Dua Ponpes Terkait Pembakaran Warung Mi Babi di Sukoharjo
Polisi melakukan penggeledahan dua pondok pesantren (ponpes) di Sukoharjo, Jawa Tengah, dalam rangka penyelidikan kasus pembakaran warung mi babi yang terjadi beberapa waktu lalu. Kedua ponpes yang digeledah tersebut berada di wilayah yang sama dengan lokasi kejadian pembakaran, sehingga menjadi fokus perhatian penyidik.
Kepala Kepolisian Resor (Polres) Sukoharjo AKBP Heri Sutrisno mengatakan bahwa penggeledahan dilakukan sebagai bagian dari proses penyelidikan yang sedang berjalan. Menurutnya, pihaknya mendapat informasi bahwa ada potensi keterlibatan beberapa pihak dari lingkungan pesantren dalam aksi pembakaran tersebut.
"Kami melakukan penggeledahan untuk mencari barang bukti yang terkait dengan kasus ini. Ada beberapa saksi yang menyebutkan adanya kegiatan mencurigakan di sekitar lokasi sebelum kejadian pembakaran," jelas Heri dalam konferensi pers yang digelar di Mapolres Sukoharjo, Rabu (15/3).
Detail Penggeledahan
Penggeledahan pertama dilakukan di Ponpes Al-Hidayah yang berlokasi di Desa Jajar, Kecamatan Baki, Sukoharjo. Polisi menggeledah beberapa ruangan di ponpes tersebut, termasuk asrama santri, ruang kelas, dan kantor pimpinan ponpes. Dilakukan juga pemeriksaan terhadap beberapa santri dan pengasuh ponpes.
"Kami mengamankan beberapa barang bukti berupa sepeda motor yang diduga digunakan pelaku untuk melarikan diri setelah melakukan aksi pembakaran. Selain itu, juga ditemukan pakaian yang diduga seragam pelaku," ujar Kapolsek Baki AKP Budi Santoso yang memimpin penggeledahan tersebut.
Penggeledahan kedua dilakukan di Ponpes Al-Muttaqin yang terletak tidak jauh dari lokasi pertama. Polisi fokus mencari barang bukti yang mungkin tersembunyi di area ponpes. Beberapa santri dan pengasuh ponpes diperiksa sebagai saksi.
Menurut informasi yang dihimpun, kedua ponpes tersebut memiliki hubungan dengan organisasi atau kelompok yang berhaluan keras. Informasi ini menjadi salah satu alasan polisi melakukan penggeledahan di kedua tempat tersebut.
Kronologi Pembakaran Warung Mi Babi
Insiden pembakaran warung mi babi terjadi pada Rabu (1/3) dini hari. Warung yang berada di Jalan Raya Kartasura, Sukoharjo, itu dilalap api oleh sejumlah orang tak dikenal. Berdasarkan keterangan saksi, pelaku berjumlah sekitar lima orang yang datang menggunakan dua sepeda motor.
"Pelaku datang sekitar pukul 01.00 WIB. Mereka langsung membawakan minyak tanah dan menuangkannya ke dalam warung sebelum membakarnya. Kami menduga aksi ini didasari oleh intoleransi terhadap penjual babi," kata Heri.
Warung milik Sutrisn (45) itu ludes terbakar. Tidak ada korban jiwa dalam insiden ini, namun kerugian diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah. Sutrisn mengaku sudah berjualan mi babi selama lebih dari 20 tahun di lokasi yang sama.
"Saya tidak tahu kenapa warung saya dibakar. Saya hanya ingin mencari nafkah dengan usaha kecil ini. Saya minta polisi segera menangkap pelaku yang telah menghancurkan hidup saya," ujar Sutrisn dengan suara penuh haru.
Reaksi dari Berbagai Pihak
Insiden ini menuai banyak reaksi dari berbagai pihak. Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengutuk tegas aksi pembakaran tersebut. Menurutnya, aksi tidak toleransi seperti ini tidak boleh terjadi di Jawa Tengah.
"Kami tidak toleransi dengan aksi kekerasan seperti ini. Jawa Tengah adalah provinsi yang berbudaya dan beragama. Semua agama dan budaya harus dihormati," ujar Ganjar.
Sementara itu, sejumlah aktivis HAM meminta polisi untuk menyelidiksi kasus ini secara objektif dan tidak hanya menjerat pelaku biasa, namun juga mencari otak di belakang aksi ini.
"Kami khawatir ini hanya sebagian dari aksi intoleransi yang lebih besar. Polisi harus menyelidiki hingga ke dasar dan menangkap semua pihak yang terlibat, termasuk otak pembakaran," kata Koordinator Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) Jawa Tengah, Ahmad Hilmi.
Penyelidikan Berlanjut
Polisi masih menyelidiki kasus ini dan belum menetapkan tersangka. Beberapa saksi sudah diperiksa, namun polisi masih memerlukan lebih banyak bukti untuk menjerat pelaku.
"Kami masih mengumpulkan bukti dan mendalami keterlibatan beberapa pihak. Penggeledahan di ponpes ini adalah bagian dari upaya kami untuk mengungkap kebenaran di balik kasus ini," jelas Heri.
Ia menambahkan bahwa pihaknya juga akan memeriksa rekam CCTV di sekitar lokasi kejadian untuk mengidentifikasi pelaku. Selain itu, polisi juga akan bekerja sama dengan pihak berwenang terkait untuk mencegah terulangnya insiden serupa.
"Kami akan mengantisipasi terulangnya aksi intoleransi dengan melakukan patroli intensif di wilayah-wilayah yang rawan. Kami juga akan melakukan dialog dengan tokoh agama dan masyarakat untuk menjaga kebersamaan," tutup Heri.
Komentar (0)