02, 2026
Nasional

Ribuan Gen Z di Jerman Demo Gara-gara Rencana Wajib Militer, Kerusuhan Pecah di 3 Kota hingga 200 Orang Ditangkap Polisi

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2023/01/24/63cf6ab200959-ilustrasi-bendera-jerman-terlihat-di-depan-gedung-reichstag-di-berlin-jerman_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Hesti Nasution
Hesti Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Demonstrasi Massal Gen Z Jerman Tolak Wajib Militer

Ribuan generasi muda di Jerman menggelar demonstrasi besar-besaran menentukan rencana pemerintah untuk menghidupkan kembali wajib militer. Aksi protes yang melibatkan ribuan orang ini berujung pada kerusuhan di tiga kota utama, dengan sekitar 200 orang ditangkap aparat kepolisian.

Demonstrasi ini terjadi sebagai respons terhadap proposal pemerintahan Jerman yang mempertimbangkan untuk mengembalikan sistem wajib militer, yang sebelumnya dihapus pada tahun 2011. Proposal ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Eropa, terutama setelah invasi Rusia ke Ukraina tahun lalu.

Masa Depan Keamanan Jerman Dibahas Kembali

Pemerintahan Jerman pimpinan Kansler Olaf Scholz sedang mempertimbangkan berbagai opsi untuk meningkatkan pertahanan nasional, termasuk kemungkinan menghidupkan kembali wajib militer atau sistem alternatif seperti wajib layanan sipil. proposal ini menjadi topik hangat di kalangan muda Jerman yang sebagian besar menentangnya.

Demonstrasi yang digelar di Berlin, Hamburg, dan Cologne ini menarik ribuan peserta, sebagian besar merupakan generasi Z (kelahiran antara 1997-2012). Para demonstran membawa spanduk bertuliskan "Tidak untuk Perang" dan "Kami Inja, Bukan di Medan Perang". Mereka khawatir kebijakan ini akan mengarahkan Jerman ke arah militarisme dan mengorbankan masa depan mereka.

Kerusuhan di Tiga Kota Besar

Situasi memanas ketika sekelompok demonstran memutuskan untuk memisahkan diri dari aksi damai dan memulai aksi unjuk rasa yang lebih radikal. Di Berlin, kerusuhan pecah di depan gedung Bundestag (parlemen Jerman) ketika sekelompok pemuda melempar batu dan botol ke arah polisi.

Polisi yang sudah siaga sebelumnya langsung bereaksi dengan membubarkan kerumunan menggunakan air merah dan gas air mata. Di Hamburg, aksi kerusuhan terjadi di area pelabuhan, di mana beberapa toko dijarah dan fasilitas umum rusak akibat aksi vandalisme.

Kota Cologne menjadi lokasi ketiga terjadinya kerusuhan, di mana sekitar 50 orang ditangkap setelah bentrok dengan polisi. "Kami melihat adanya kelompok radikal yang mengambil alih demonstrasi damai," kata juru bicara polisi Berlin, Markus Gellermann.

Respon Pemerintah dan Masyarakat

Pemerintah Jerman mengecam keras aksi kekerasan yang terjadi. Menteri Pertahanan Boris Pistorius menyatakan bahwa meskipun dia memahami kekhawatiran masyarakat tentang rencana wajib militer, kekerasan tidak dapat diterima.

"Kami terbuka untuk diskusi dan kritik konstruktif, namun kerusahan dan kekerasan ini tidak membantu membangun dialog yang sehat," ujar Pistorius dalam konferensi pers di Berlin.

Di sisi lain, para organisasi pemuda dan aktivis perdamaian yang mengadakan aksi damai mengecam keras tindakan oknum demonstran yang memicu kerusuhan. "Aksi kita damai dan kami tidak mendukung kekerasan dalam bentuk apa pun," kata Lisa Schmidt, juru bicara koalisi organisasi pemuda yang menggelar demonstrasi.

Dampak pada Diskursus Keamanan Nasional

Demonstrasi dan kerusuhan ini menunjukkan adanya perbedaan pandangan yang signifikan dalam masyarakat Jerman mengenai masa depan keamanan nasional. Sementara pemerintah dan beberapa politikus berargumen bahwa perlunya meningkatkan kemampuan pertahanan negara, banyak masyarakat, terutama generasi muda, khawatir akan keterlibatan Jerman dalam konflik militer.

Survei terbaru menunjukkan bahwa sekitar 58% masyarakat Jerman menentang rencana penghidupan kembali wajib militer, dengan alasan khawatir akan meningkatkan ketegangan internasional dan mengorbankan masa depan generasi muda.

Prospek Kebijakan di Masa Depan

Meskipun terjadi protes massal, pemerintah Jerman belum menarik proposalnya sepenuhnya. Pemerintah masih berencana untuk melanjutkan diskusi mengenai reformasi sistem pertahanan nasional, dengan mempertimbangkan berbagai alternatif termasuk wajib layanan sipil yang diperluas atau program sukarela yang lebih menarik.

Debat mengenai kebijakan keamanan ini diperkirakan akan berlanjut selama beberapa bulan ke depan, dengan pemerintan berjanji untuk melakukan konsultasi yang luas dengan berbagai pihak seputar keputusan akhir.

Sementara itu, para pemimpin oposisi juga menyerukan agar pemerintah lebih memperhatikan kekhawatiran masyarakat sebelum membuat keputusan yang signifikan seperti menghidupkan kembali wajib militer setelah lebih dari satu dekade dihapuskan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Nasution

Analis pasar modal dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter