27, 2026
Politik

Sambut Hari Toleransi Sedunia, Kemenag Siapkan 15 Program Kerukunan Lintas Agama

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/10/27/6ae043ab30198-konferensi-pers-the-wonder-of-harmony-2026-di-kantor-kementerian-agama_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Reza Setiawan
Reza Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kemenag Siapkan 15 Program untuk Memperingati Hari Toleransi Sedunia

Kementerian Agama (Kemenag) menyiapkan 15 program dalam rangka menyambut Hari Toleransi Sedunia yang jatuh pada 16 November. Program ini bertujuan untuk memperkuat kerukunan lintas agama dan budaya di Indonesia sebagai negara beragam dan berbudaya. Kepala Biro Kerukunan Umat Beragama (KUB) Kemenag, Ahmad Fauzi, menjelaskan bahwa program-program ini dirancang secara komprehensif melibatkan berbagai pihak termasuk pemuka agama, tokoh masyarakat, dan pemuda.

Program Komprehensif untuk Mendorong Toleransi

Menurut Fauzi, 15 program yang disiapkan Kemenag mencakup berbagai aspek mulai dari pendidikan, dialog antaragama, hingga aksi nyata dalam masyarakat. "Kita tidak hanya ingin menyampaikan pesan toleransi secara verbal, tetapi juga melalui aksi konkret yang dapat dirasakan oleh masyarakat," ujarnya dalam konferensi pers yang diselenggarakan di Jakarta, Rabu (26/10/2023).

Program-program tersebut antara lain adalah penyelenggaraan seminar nasional tentang toleransi, pelatihan bagi pemuka agama, peluncuran buku panduan kerukunan, serta kompetisi menulis dan menggambar bertema toleransi bagi pelajar. Selain itu, Kemenag juga akan mengadakan dialog interreligius di 10 provinsi yang rawan konflik sosial, serta memfasilitasi ziarah ke tempat ibadah berbeda.

Peningkatan Peran Pemuka Agama

Salah satu program unggulan yang akan diimplementasikan adalah pelatihan bagi pemuka agama untuk menjadi mediator dalam konflik sosial yang berbasis agama. "Pemuka agama memiliki pengaruh besar dalam masyarakat, sehingga perlu dibekali keterampilan khusus untuk menyelesaikan konflik secara damai," jelas Fauzi.

Program pelatihan ini akan dilaksanakan bekerjasama dengan lembaga pendidikan tinggi agama dan organisasi internasional berpengalaman dalam bidang konflik dan resolusi damai. Peserta pelatihan akan dididik tentang metode mediasi, komunikasi antaragama, serta analisis konflik.

Partisipasi Pemuda dan Media

Kemenag juga menargetkan partisipasi aktif pemuda dalam program toleransi. "Pemuda adalah agen perubahan yang potensial. Melalui program-program kreativitas, kami mengharapkan mereka menjadi pelopor toleransi di lingkungannya masing-masing," ujar Fauzi.

Salah satu program yang ditujukan bagi pemuda adalah program "Pemuda Pemersatu Nusantara" yang akan mengadakan berbagai kegiatan seperti festival budaya, lomba debat tentang isu keagamaan, serta program sosial bersama yang melibatkan pemuda dari berbagai latar belakag agama.

Sementara itu, dalam ranah media, Kemenag akan bekerja sama dengan platform media sosial untuk mengkampanyekan #ToleransiIndonesia. Kampanye ini akan menampilkan berbagai cerita inspiratif tentang toleransi di Indonesia serta edukasi tentang pentingnya menghormati perbedaan.

Tantangan dan Tindakan Konkret

Fauzi mengakui bahwa tantangan dalam mewujudkan toleransi di Indonesia masih sangat besar. "Kita sering melihat kasus intoleransi yang marak di media sosial bahkan hingga ke tingkat kekerasan. Oleh karena itu, tindakan konkret harus segera diambil," katanya.

Untuk mengatasi tantangan ini, Kemenag akan memperkuat kerjasama dengan pemerintah daerah dalam penyelesaian konflik sosial yang berbasis agama. "Kita akan membentuk tim respons cepat yang terdiri dari aparat keamanan, pemuka agama, dan tokoh masyarakat untuk segera menangani konflok sebelum membesar," jelasnya.

Selain itu, Kemenag juga akan memperkuat peran lembaga pendidikan dalam menanamkan nilai toleransi sejak dini. "Nilai toleransi harus diintegrasikan dalam kurikulum pendidikan, baik formal maupun nonformal," tambah Fauzi.

Harapan untuk Masa Depan

Dengan berbagai program ini, Kemenag berharap dapat menciptakan lingkungan sosial yang lebih harmonis dan toleran di Indonesia. "Indonesia memiliki keberagaman yang menjadi kekuatan, asalkan kita bisa mengelola perbedaan dengan bijak. Toleransi bukan berarti mengabaikan perbedaan, tetapi menghormati dan memahami perbedaan tersebut," pungkas Fauzi.

Menjelang peringatan Hari Toleransi Sedunia, Kemenag mengajak seluruh elemen masyarakat untuk turut serta membangun budaya toleransi. "Kita semua adalah bagian dari solusi. Mari bersama-sama mewujudkan Indonesia yang lebih harmonis dan damai," tutupnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Reza Setiawan

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter