Sampah Jakarta ke Bantargebang Turun Jadi 4.000 Ton per Hari, Ini Sebabnya
Volume sampah yang dikirim dari Jakarta ke TPA Bantargebang mengalami penurunan signifikan menjadi sekitar 4.000 ton per hari. Penurunan ini terjadi sejak penerapan kebijakan pengurangan sampah di tingkat kelurahan dan peningkatan upda pembuatan kompos. Dalam beberapa tahun terakhir, volume sampah Jakarta yang dikirim ke Bantargebang pernah mencapai angka 6.000 ton per hari.
Penurunan Volume Sampah
Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Jakarta, Asep Kuswandi, mengungkapkan bahwa penurunan volume sampah ini merupakan hasil dari berbagai program pengurangan dan pemanfaatan sampah yang telah dijalankan pemerintah provinsi. "Kita berhasil mengurangi sampah sekitar 2.000 ton per hari. Ini adalah prestasi yang patut kita syukuri," ujar Asep saat ditemui di Balai Kota, Rabu (15/3).
Menurut Asep, penurunan ini terutama disebabkan oleh peningkatan program 3R (Reduce, Reuse, Recycle) di tingkat kelurahan. "Sekarang setiap kelurahan memiliki fasilitas pengolahan sampah sederhana yang mampu mengolah sampah organik menjadi kompos. Dengan demikian, volume sampah organik yang masuk ke TPA Bantargebang berkurang," jelasnya.
Program Pengurangan Sampah
Salah satu program yang berhasil diterapkan adalah program pembuatan kompos di tingkat kelurahan dan RW. Hingga saat ini, sebanyak 326 kelurahan di Jakarta telah memiliki fasilitas pengolahan sampah sederhana. Fasilitas ini mampu mengolah sampah organik menjadi kompos yang dapat digunakan sebagai pupuk tanaman.
"Selain itu, kita juga mendorong program bank sampah di berbagai wilayah. Melalui program ini, warga dapat mengumpulkan sampah kering seperti plastik, kertas, dan logam, lalu menukarnya dengan uang tunai atau barang lainnya. Ini tidak hanya mengurangi sampah tapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi warga," tambah Asep.
Tantangan yang Masih Dihadapi
Meski telah mengalami penurunan, volume sampah Jakarta ke Bantargebang masih dianggap tinggi. Asep mengakui masih ada tantangan yang harus dihadapi, terutama dalam mengubah perilaku masyarakat terkait pengelolaan sampah.
"Masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya pengurangan sampah. Kita terus melakukan sosialisasi dan edukasi agar semakin banyak warga yang terlibat aktif dalam program pengurangan sampah," ujarnya.
Selain itu, infrastruktur pengolahan sampah di beberapa wilayah masih belum memadai. Beberapa kelurahan masih mengandalkan TPA Bantargebang sebagai tempat pembuangan akhir sampah, padahal seharusnya sampah dapat diolah di tingkat kelurahan itu sendiri.
Target Masa Depan
Pemerintah Provinsi Jakarta menargetkan pada tahun 2025, volume sampah yang dikirim ke Bantargebang dapat ditekan menjadi 3.000 ton per hari. Target ini akan dicapai melalui peningkatan program 3R, pembangunan fasilitas pengolahan sampah yang lebih memadai, dan penguatan regulasi terkait pengelolaan sampah.
"Kita juga akan memperkuat peran swasta dan masyarakat dalam pengelolaan sampah. Melalui kerja sama ini, diharapkan program pengurangan sampah dapat berjalan lebih efektif," kata Asep.
Penurunan volume sampah Jakarta ke Bantargebang ini tentu menjadi kabar baik. Namun, tantangan dalam mengelola sampah perkotaan masih jadi perhatian serius. Dengan berbagai program yang sedang berjalan, diharapkan Jakarta dapat menjadi contoh bagi kota-kota lain dalam mengelola sampah secara berkelanjutan.
Komentar (0)