03, 2026
Ekonomi

Harga Tiket dan Kabut Asap Bikin WNI Kurangi Melancong ke Luar Negeri

Rizky Amelia
Rizky Amelia Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Harga Tiket dan Kabut Asap Bikin WNI Kurangi Melancong ke Luar Negeri

Kondisi ekonomi global yang belum sepenuhnya pulih dan dampak negatif dari kabut asap yang melanda beberapa wilayah di Indonesia ternyata memberikan pengaruh signifikan terhadap kebijakan perjalanan warga negara Indonesia (WNI). Menurut data terkini dari berbagai biro perjalanan dan maskapai penerbangan, terjadi penurunan signifikan dalam jumlah WNI yang melakukan wisata ke luar negeri sejak awal tahun ini. Faktor utama yang menjadi penyebab adalah kenaikan harga tiket pesawat dan kondisi lingkungan yang tidak mendukung.

Kenaikan Harga Tiket Sebagai Penghalang Utama

Harga tiket pesawat internasional yang mengalami kenaikan drastis menjadi salah satu alasan utama mengapa banyak WNI memilih untuk membatasi atau bahkan menghentikan rencana perjalanan ke luar negeri. Menurut survei yang dilakukan oleh Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia (ASITA), harga tiket rata-rata untuk rute internasional mengalami kenaikan antara 30% hingga 50% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain meningkatnya harga bahan bakar minyak (BBM) global, nilai tukar rupiah yang terus melemah, serta restrukturisasi jadwal penerbangan pasca pandemi yang menyebabkan kapasitas penumpang masih belum optimal.

Direktur Eksekutif ASITA, Hendro Satriawan, mengungkapkan bahwa kenaikan harga tiket ini langsung berdampak pada daya beli masyarakat terutama untuk kebutuhan non-esensial seperti wisata internasional. "Banyak calon wisatator yang akhirnya memilih untuk mengubah rencana perjalanan mereka ke destinasi domestik atau bahkan membatasi jumlah anggota keluarga yang ikut dalam perjalanan," ujarnya dalam konfersi pers yang diadakan beberapa waktu lalu.

Dampak Kabut Asap Terhadap Rencana Perjalanan

Selain masalah harga, kabut asap yang sering melanda Indonesia terutama pada musim kemarau juga turut memengaruhi keputusan WNI dalam merencanakan perjalanan ke luar negeri. Kabut asap yang disebabkan oleh kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di beberapa wilayah di Sumatera dan Kalimantan tidak hanya berdampak kesehatan namun juga memengaruhi persiapan fisik dan mental sebelum melakukan perjalanan jarak jauh.

Sejumlah wisatator yang merencanakan perjalanan ke luar negeri mengaku merasa khawatir dengan kondisi kesehatan yang mungkin terganggu akibat paparan kabut asak secara terus-menerus sebelum keberangkatan. "Saya sempat terpaksa membatalkan rencana liburan ke Jepang bulan lalu karena kondisi paru-paru saya sedang tidak fit akibat kabut asap. Dokter menyarankan untuk tidak melakukan perjalanan udara dalam kondisi seperti itu," ujar Sarah, sepegawai swasta yang tinggal di Jakarta.

Pergeseran Tren Wisata ke Destinasi Domestik

Dampak dari dua faktor ini terlihat jelas dalam pergeseran tren wisata dari internasional ke domestik. Data dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif menunjukkan peningkatan kunjungan ke objek wisata dalam negeri sebesar 25% pada kuartal pertama tahun ini dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Destinasi-destinasi seperti Bali, Lombok, Yogyakarta, dan beberapa kota di Pulau Jawa dan Sumatera menjadi pilihan utama bagi wisatawan yang awalnya merencanakan perjalanan ke luar negeri.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Amalia Adininggar Widyanti menjelaskan bahwa pergeseran ini merupakan dampak logis dari berbagai kondisi yang terjadi. "Wisata domestik menawarkan alternatif yang lebih terjangkau dan tidak memerlukan persiapan yang rumit seperti perjalanan internasional. Selain itu, dengan kondisi geografis Indonesia yang kaya akan keindahan alam, wisatawan tidak perlu jauh-jauh pergi untuk menikmati liburan yang memuaskan," kata Amalia.

Strategi Adaptasi dari Industri Perjalanan

Di tengah tantangan ini, industri perjalanan di Indonesia terus berupaya beradaptasi dengan menawarkan berbagai paket dan promosi menarik untuk wisata domestik. Banyak biro perjalanan dan hotel bekerjasama untuk menghadirkan paket all-inclusive dengan harga yang kompetitif. Selain itu, beberapa maskapai juga meningkatkan frekuensi penerbangan rute domestik untuk memenuhi permintaan yang semakin tinggi.

Menurut analis ekonomi from the Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bhima Yudisthira, meskipun penurunan wisata internasial memberikan dampak negatif bagi sektor pariwisata secara keseluruhan, namun ini juga membuka peluang bagi pengembangan destinasi wisata domestik yang lebih optimal. "Ini adalah kesempatan bagi Indonesia untuk memaksimalkan potensi wisata domestik dan mengurangi ketergantungan terhadap wisatawan mancanegara," ujarnya.

Dengan demikian, meskipun menghadapi berbagai tantangan, industri pariwisata Indonesia terus berupaya untuk bertahan dan berkembang dengan mengoptimalkan potensi yang dimiliki. Pemerintah juga diharapkan dapat memberikan dukungan lebih melalui kebijakan yang memudahkan aksesibilitas dan meningkatkan promosi destinasi wisata domestik untuk menarik minat wisatawan baik domestik maupun internasional.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizky Amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter