30, 2026
Nasional

Video: Inovasi BRMP Hasilkan Benih Padi Yang Kuat di Rawa-Lahan Kering

Inovasi Benih Padi BRMP Mektan, Kuat di Lahan Kering - Toleran Rawa Mineral]]>

Tania Sari
Tania Sari Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Video: Inovasi BRMP Hasilkan Benih Padi Yang Kuat di Rawa-Lahan Kering

Inovasi BRMP Hasilkan Benih Padi Yang Kuat di Rawa-Lahan Kering

Badan Riset dan Inovasi Pertanian (BRIP) melalui Balai Penelitian Tanaman Padi (Balittpadi) mengembangkan inovasi benih padi unggul yang mampu tumbuh di beragam kondisi lahan, termasuk rawa dan lahan kering. Inovasi ini menjadi harapan baru untuk meningkatkan produksi padi di Indonesia yang menghadapi berbagai tantangan lingkungan dan perubahan iklim.

Kepala Balittpadi, Dr. Ir. H. Syamsul Bahri, M.Si., menjelaskan bahwa benih padi unggul yang dikembangkan merupakan hasil seleksi genetik bertahap selama lebih dari lima tahun. "Benih ini dirancang khusus untuk adaptasi tinggi terhadap kondisi stres abiotik seperti kekeringan dan genangan air. Kita menyebutnya sebagai varietas padi multi-stres yang responsif," ujarnya dalam konferensi pers virtual yang diselenggarakan baru-baru ini.

Karakteristik Unggul Benih Padi Baru

Benih padi hasil inovasi BRMP memiliki sejumlah karakteristik unggul yang membedakannya dari varietas padi konvensional. Pertama, memiliki sistem akar yang lebih kuat dan dalam, mampu menjangkau air dan nutrisen di lapisan tanah yang lebih dalam. Kedua, memiliki toleransi tinggi terhadap kekeringan hingga 21 hari tanpa irigasi. Ketiga, mampu bertahan dalam kondisi genangan air selama dua minggu tanpa menunjukkan gejala hama atau penyakit.

"Selain itu, varietas ini juga memiliki resistensi terhadap hama wereng cokelat dan hama penyakit blast yang menjadi musuh utama petani padi di Indonesia. Hasil uji di laboratorium dan lahan uji menunjukkan tingkat resistensi mencapai 85-90 persen," tambah Dr. Syamsul.

Teknologi Pembibitan Terpadu

Untuk mendukung produksi benih padi unggul ini, BRIP juga mengembangkan teknologi pembibitan terpadu yang ramah lingkungan. Teknologi ini menerapkan sistem hidroponik sederhana menggunakan media tanam dari serabut kelapa yang telah diolah khusus. "Sistem ini memungkinkan kita menghasilkan benih dalam jumlah besar dengan kualitas konsisten tanpa bergantung pada musim dan ketersediaan lahan," jelas Kepala Bidang Pemanfaatan Benih dan Tanaman Padi, Dr. Rina Kartika, S.P., M.Si.

Proses pembibitan dilakukan di温室 (greenhouse) yang dilengkapi dengan sistem kontrol suhu dan kelembaban otomatis. "Kondisi ideal ini memastikan benih yang dihasilkan sehat, seragam, dan berkualitas tinggi. Setiap benih telah melalui proses pemilihan ketat untuk memastikan hanya benih terbaik yang akan disebarkan ke petani," tambah Dr. Rina.

Uji Coba Lapangan dan Respon Petani

Benih padi unggul ini telah diuji coba di beberapa provinsi di Indonesia, termasuk Jawa Barat, Sulawesi Selatan, dan Kalimantan Timur. Di Jawa Barat, uji coba dilakukan di lahan kering di wilayah Kuningan, sementara di Sulawesi Selatan dilakukan di lahan rawa di Maros.

Hasil uji coba menunjukkan peningkatan produksi hingga 30% dibandingkan varietas padi lokal yang biasa ditanam. "Di lahan kering, varietas ini mampu menghasilkan rata-rata 5,5 ton per hektare, sementara di lahan rawa mencapai 6,2 ton per hektare. Ini merupakan peningkatan signifikan jika dibandingkan dengan produksi rata-rata nasional yang baru mencapai 4,8 ton per hektare," jelas Kepala Divisi Sosialisasi dan Diseminasi Teknologi, Ir. Budi Santoso, M.Sc.

Petani yang terlibat dalam uji coba memberikan respons positif. "Sebelumnya, lahan kering di daerah sering gagal panen karena kekeringan. Dengan benih ini, kami bisa panen dengan hasil yang memuaskan bahkan di musim kemarau," ujar Suparman, petani dari Kuningan, Jawa Barat.

Rencana Penyebaran dan Dampak Ekonomi

BRIP berencana menyebar benih padi unggul ini secara massal melalui program bersama Kementerian Pertanian dan pemerintah daerah. Targetnya adalah menyebar benih ke 10 provinsi di Indonesia dalam satu tahun ke depan dengan total luas lahan mencapai 50.000 hektare.

Dampak ekonomi yang dihasilkan dari inovasi ini sangat signifikan. Dengan asumsi harga padi Rp 5.000 per kilogram dan peningkatan produksi 30%, petani dapat memperoleh tambahan pendapatan sekitar Rp 7,5 juta per hektare per musim tanam. "Ini akan meningkatkan kesejahteraan petani dan mengurangi defisit produksi padi nasional," kata Dr. Syamsul.

Selain itu, inovasi ini juga mendukung program ketahanan pangan nasional dan implementasi sistem pertanian berkelanjutan. Dengan varietas yang mampu tumbuh di beragam kondisi lahan, petani tidak lagi perlu membuka lahan baru yang berpotensi merusak lingkungan.

Tantangan dan Masa Depan

Meski telah menunjukkan hasil yang memuaskan, pengembangan benih padi unggul ini masih menghadapi beberapa tantangan. Salah satunya adalah masalah akses petani terhadap benih berkualitas dan pendampingan teknis yang memadai. "Kami bekerja sama dengan koperasi petani dan pemerintah daerah untuk memastikan benih tersedia dan petani mendapatkan bimbingan yang tepat," jelas Ir. Budi.

Di masa depan, BRIP berencana mengembangkan varietas padi unggul dengan karakteristik tambahan seperti kandungan gizi lebih tinggi dan ketahanan terhadap stres salinitas. "Inovasi ini akan terus berlanjut untuk menghadapi tantangan perubahan iklim dan memenuhi kebutuhan pangan yang semakin kompleks," pungkas Dr. Syamsul.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Tania Sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter