29, 2026
Nasional

Cerita Sudaryono soal Yayasan Calo dan Dapur Fiktif MBG Era Sebelumnya

Kirana Utami
Kirana Utami Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Cerita Sudaryono soal Yayasan Calo dan Dapur Fiktif MBG Era Sebelumnya

Sejumlah isu muncul terkait yayasan calo dan dapur fiktif yang dikaitkan dengan Manajemen Bantuan Gotong Royong (MBG) pada era sebelumnya. Salah satu tokoh yang sempat menjadi sorotan adalah Sudaryono, yang bercerita secara mendalam mengenai praktik-praktik yang menurutnya terjadi di balik layar program bantuan tersebut.

Sudaryono, mantan pejabat tinggi di kementerian terkait, mengungkap adanya praktik pengalihan dana melalui yayasan-yayasan yang tidak jelas status dan kegiatannya. Menurutnya, mekanisme ini menjadi jalan bagi para calo untuk mengambil keuntungan dari program bantuan yang seharusnya disalurkan kepada masyarakat kurang mampu.

Yayasan Calo sebagai Perantara

Dalam pernyataannya, Sudaryono menjelaskan bahwa yayasan calo berfungsi sebagai perantara antara pemerintah dan penerima manfaat. "Ada jaringan yang sangat terstruktur di mana yayasan ini menjadi wadah untuk mengalokasikan dana dari pemerintah, kemudian disalurkan ke penerima manfaat setelah dikurangi biaya-biaya operasional yang tidak jelas," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa praktik ini telah berlangsung sebelum era reformasi birokrasi dan terus berlanjut hingga beberapa periode berikutnya. Yayasan-yayasan ini sering kali menggunakan nama-nama yang seolah-olah terkait dengan program pemerintah, sehingga mudah mendapat kepercayaan dari masyarakat.

Dapur Fiktif dalam Sistem MBG

Salah satu praktik yang paling mencolok menurut Sudaryono adalah adanya dapur fiktif dalam sistem MBG. "Dapur fiktif ini digunakan untuk mencatat kegiatan yang tidak pernah terjadi. Laporan kegiatan dibuat secara fiktif dengan angka-angka yang dibesar-besarkan, sehingga ada sisa dana yang bisa diambil oleh para pelaku," jelasnya.

Ia menjelaskan bahwa dapur fiktif ini menjadi pusat dari skimming dana. Anggaran yang dialokasikan untuk kegiatan bantuan seperti operasional dapur, pembelian bahan makanan, dan honor karyawan sering kali dibuat lebih besar dari yang sebenarnya diperlukan. Selisih anggaran inilah yang menjadi sumber keuntungan bagi para calo.

Dampak pada Penerima Manfaat

Dampak langsung dari praktik ini adalah penurunan kualitas bantuan yang diterima masyarakat. Menurut Sudaryono, banyak penerima manfaat yang hanya menerima bantuan seadanya, padahal alokasi dana yang tersedia jauh lebih besar.

Upaya Pemberantasan

Sudaryono mengakui bahwa upaya pemberantasan praktik ini tidak mudah. "Ada jaringan yang sangat kuat dan terstruktur. Banyak pejabat yang terlibat, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mereka saling melindungi sehingga sulit untuk membongkar praktik ini," ujarnya.

Ia menambahkan bahwa beberapa upaya telah dilakukan, seperti penyederhanaan sistem pengalokasian dana dan peningkatan pengawasan. Namun, praktik masih terjadi dalam bentuk yang lebih modern dan sulit terdeteksi.

Kritik terhadap Sistem Saat Ini

Meskipun sistem telah mengalami reformasi, Sudaryono masih memberikan kritik terhadap implementasinya. "Sekarang sistemnya lebih transparan, tetapi praktik calo beralih ke bentuk lain. Mereka menggunakan lembaga swadaya masyarakat (LSM) atau yayasan yang terlihat resmi untuk mengalihkan dana," katanya.

Ia menekankan perlunya peningkatan literasi masyarakat dan peran aktif dari lembaga pengawas untuk mengawasi setiap tahapan pengalokasian dana. "Tanpa partisipasi masyarakat dan pengawasan yang ketat, praktik ini akan terus berlanjut meskipun sistem berubah," pungkasnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Utami

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter