Harga Emas Anjlok ke Level Terendah dalam Satu Tahun
Harga emas dunia mencapai level terendah dalam satu tahun terakhir pekan ini, ditandai dengan penurunan tajam yang mengguncang pasar komoditas global. Pergerakan harga emas spot di bursa internasional tercatat turun hingga 3,5% dalam sepekan, dengan penurunan harian terbesar terjadi pada Rabu lalu ketika harga anjlok lebih dari 2% dalam satu sesi perdagangan.
Data dari World Gold menunjukkan harga emas spot untuk kontrak pengiriman bulan Desember ditutup pada level US$1.680 per troy ounce, turun signifikan dari level tertinggi US$1.950 per troy ounce yang tercapai pada Agustus lalu. Penurunan ini merupakan yang paling drastis sejak September 2021 dan menandai berakhirnya tren kenaikan harga emas yang berlangsung selama enam bulan berturut-turut.
Faktor Penyebab Penurunan Tajam
Para analis mengidentifikasi beberapa faktor utama yang berkontribusi pada penurunan harga emas yang signifikan ini. Pertama, kebijakan moneter Federal Reserve Amerika Serikat yang semakin ketat menjadi pemicu utama. Indeks Dolar Amerika Serikat (DXY) menguat mencapai level 20 tahun terakhir, membuat emas menjadi kurang menarik bagi investor karena biaya opportunity-nya meningkat.
Kedua, laporan inflasi AS yang lebih rendar dari ekspektasi pada bulan Oktober memberikan ruang bagi Federal Reserve untuk terus menaikkan suku bunga. Menurut data yang dirilis Bureau of Labor Statistics, inflasi AS pada Oktober hanya naik 0,4% secara bulanan, atau 7,7% secara tahunan, lebih rendah dari perkiraan analis yang mengantisipasi kenaikan 0,6% bulanan.
Ketiga, situasi geopolitik yang relatif membaik di beberapa wilayah konflik utama mengurangi permintaan safe haven emas. Investor tampaknya lebih memilih instrumen berisiko lebih tinggi seperti saham dan mata uang digital daripada emas yang sering dianggap sebagai instrumen safe haven dalam situasi tidak pasti.
Dampak di Pasar Domestik Indonesia
Di pasar domestik, harga emas batangan yang diperdagangkan di Antam juga turun signifikan. Data dari PT Aneka Tambang Tbk (Antam) menunjukkan harga emas batangan Antam ukuran 1 gram turun sebesar Rp15.000 dari posisi sebelumnya, menjadi sekitar Rp1.075.000 per gram pada Kamis (10/11). Harga untuk ukuran 5 gram turun menjadi Rp5.375.000 per batang, sementara ukuran 10 gram turun menjadi Rp10.750.000 per batang.
"Penurunan harga emas global pasti berdampak pada harga domestik. Namun, kita melihat bahwa permintaan fisik di dalam negeri masih relatif stabil, terutama dari kalangan investor jangka panjang," ujar Agus Suryanto, Kepala Divisi Ritel Emas PT Aneka Tambang Tbk.
Perilaku Investor Pasca Penurunan
Menurut survei yang dilakukan oleh Asosiasi Perdagangan Emas Indonesia (APERINDO), sekitar 65% investor emas di Indonesia memilih untuk mempertahankan posisi mereka atau bahkan menambah pembelian saat harga turun. Sisanya sekitar 35% memilih untuk menahan diri menunggu harga lebih turun sebelum membeli kembali.
"Kondisi pasar saat ini menunjukkan adanya pembelian averaging-down dari investor jangka panjang. Mereka melihat penurunan harga sebagai kesempatan untuk memperkuat portofolio emas mereka," kata Rudi Hartono, Ketua APERINDO dalam diskusi virtual kemarin.
Prospek Harga Emas ke Depan
Para ahli memberikan proyeksi yang beragam mengenai pergerakan harga emas ke depan. analis dari Goldman Sachs memprediksi harga emas akan bergerak dalam rentang US$1.650-US$1.750 per ounce hingga akhir tahun ini, dengan potensi kenaikan jika terjadi resesi global yang lebih dalam.
Sementara itu, analis dari Bank Mandiri memprediksi harga emas di pasar domestikan akan bergerak dalam rentang Rp1.050.000-Rp1.100.000 per gram untuk ukuran 1 gram dalam jangka pendek. "Meski ada potensi penurunan lebih lanjut, fundamental emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio tetap kuat," ujar Eka Wijaya, analis pasar modal dari Bank Mandiri.
Secara global, beberapa analis menyoroti bahwa meskipun harga turun, fundamental emas sebagai instrumen diversifikasi portofolio dan perlindungan inflasi tetap kuat. Terutama dalam konteks ekonomi global yang masih penuh ketidakpastian dengan ancaman resesi dan ketidakstabilan geopolitik yang masih berlanjut di beberapa wilayah.
Komentar (0)